Anda baru saja diperiksa dokter dan mendengar kata 'robekan rotator cuff' — dan langsung bertanya-tanya apakah artinya operasi, atau apakah Anda masih bisa melanjutkan aktivitas normal. Kabar baiknya: sebagian besar kasus _rotator cuff tear _merespons baik terhadap rehabilitasi terstruktur tanpa memerlukan tindakan bedah. Artikel ini menjelaskan apa yang perlu Anda ketahui berdasarkan panduan klinis terbaru dari American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) 2025.
Apa itu Robekan Rotator Cuff?
Rotator cuff adalah kelompok empat otot dan tendon yang mengelilingi sendi bahu: terdiri dari otot supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan subscapularis. Fungsi utamanya adalah menstabilkan kepala tulang lengan atas (caput humeri) di dalam rongga sendi, sekaligus memungkinkan gerakan bahu yang beragam. [1]

Robekan rotator cuff (rotator cuff tear) terjadi ketika salah satu atau lebih tendon (bagian putih pada gambar) ini mengalami kerusakan sebagian (partial tear) atau seluruhnya (full-thickness tear). Yang paling sering terkena adalah tendon supraspinatus, yang terletak di atas sendi bahu.
Cedera ini bisa terjadi dalam dua cara: pertama, degenerasi bertahap akibat penuaan dan penggunaan berulang (degenerative tear) yang paling umum pada usia di atas 40 tahun; kedua, trauma mendadak seperti jatuh dengan tangan terentang atau mengangkat beban berat secara tiba-tiba (traumatic tear).
Mekanisme Cedera
Proses degenerasi tendon dimulai perlahan. Seiring usia, suplai darah ke tendon rotator cuff berkurang, membuat jaringan lebih rapuh dan rentan terhadap robekan, bahkan dari aktivitas sehari-hari yang tampaknya ringan. Hal ini menjelaskan mengapa insidensi robekan rotator cuff meningkat signifikan seiring usia: mulai sekitar 9,7% pada usia di bawah 20 tahun hingga 62% pada usia di atas 80 tahun. [1][2]
Pada kasus traumatik, mekanisme yang paling umum adalah jatuh pada tangan yang terentang, gerakan melempar yang kuat dan tiba-tiba, atau mengangkat benda berat di atas kepala. Pada atlet, cedera ini sering dikaitkan dengan olahraga overhead seperti bulu tangkis, renang, voli, dan baseball. [1][2]
Gejala Umum
Gejala robekan rotator cuff bervariasi tergantung ukuran dan lokasi robekan. Perlu dicatat bahwa beberapa orang memiliki robekan tanpa gejala sama sekali, ini penting agar tidak menarik kesimpulan berlebihan dari temuan MRI atau USG tanpa gejala klinis.
Gejala yang sering dilaporkan meliputi:
- Nyeri bahu yang memburuk saat mengangkat tangan ke atas kepala atau ke belakang
- Nyeri yang mengganggu tidur, terutama bila tidur miring ke sisi bahu yang sakit
- Kelemahan saat mengangkat atau memutar lengan
- Suara klik atau krepit saat menggerakkan bahu
- Kekakuan bahu setelah tidak aktif dalam waktu lama
Faktor Risiko
- Usia di atas 40 tahun, risiko meningkat signifikan dengan usia
- Pekerjaan yang membutuhkan gerakan overhead berulang: kuli bangunan, pelukis tembok, petani
- Olahraga overhead: bulu tangkis, renang, voli, tenis, Baseball
- Merokok - berkaitan dengan penurunan suplai darah ke tendon
- Riwayat cedera bahu sebelumnya
Panduan Latihan Berbasis Bukti
Hentikan latihan jika terasa nyeri VAS 3/10.
Nyeri dapat dinilai menggunakan skala 0–10; 0 menunjukkan tidak nyeri, 10 menunjukkan nyeri sangat berat.
Fase 1
- Pendulum exercise (ayunan lengan pasif): bungkukkan tubuh, biarkan lengan menggantung, lakukan gerakan lingkaran kecil dengan gravitasi — 2set x 20 Repetisi, 2x sehari. (Note: Jika menimbulkan rasa sakit, lakukan pendulum exercise tanpa ayunan aktif, biarkan gravitasi bekerja. Progresi latihan: Tambah lebar putaran secara bertahap.)
- Finger Walking: gerakkan jari-jari secara perlahan dari bawah ke atas dinding sesuai kemampuan untuk meningkatkan range of motion
- Scapular retraction dan protraction: latihan untuk memperbaiki kontrol tulang belikat
- Isometric Exercise (latihan menahan posisi sambil mengencangkan otot): Fleksi, Ekstensi, Abduksi, Eksternal Rotasi & Internal Rotasi
Referensi Pendukung
- American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS). Clinical Practice Guideline for the Management of Rotator Cuff Injuries. 2025.doi:
aaos.org/rccpg2025 | Published 08/2025Buka sumber - Beneciuk JM, Kim HM, Michener LA, et al. Rotator Cuff Tendinopathy Diagnosis, Nonsurgical Medical Care, and Rehabilitation: A Clinical Practice Guideline. J Orthop Sports Phys Ther. 2025;55(4):235-274.doi:
doi:10.2519/jospt.2025.13182Buka sumber - Steuri R, Sattelmayer M, Elsig S, et al. Effectiveness of conservative interventions including exercise, manual therapy and medical management in adults with shoulder impingement: systematic review and meta-analysis. Br J Sports Med. 2017;51(20):1466-1472.doi:
doi: 10.1136/bjsports-2016-096515Buka sumber - Kukkonen J, Joukainen A, Lehtinen J, et al. Treatment of non-traumatic rotator cuff tears: A randomised controlled trial with one-year clinical results. J Bone Joint Surg Am. 2015;97(21):1729-1737.doi:
doi:10.2106/JBJS.N.01051Buka sumber - Ryösä A, Laimi K, Äärimaa V, et al. Surgery or conservative treatment for rotator cuff tear: a meta-analysis. Disabil Rehabil. 2017;39(14):1357-1363.doi:
doi:10.1080/09638288.2016.1198431Buka sumber - Ainsworth R, Lewis JS. Exercise therapy for the conservative management of full thickness tears of the rotator cuff: a systematic review. Br J Sports Med. 2007;41(4):200-210.doi:
doi:10.1136/bjsm.2006.032524Buka sumber - Holmgren T, Hallgren HB, Oberg B, et al. Effect of specific exercise strategy on need for surgery in patients with subacromial impingement syndrome: RCT. BMJ. 2012;344:e787.doi:
doi:10.1136/bmj.e787Buka sumber







