Setiap kali Anda mengambil barang dari rak atas, mengikat rambut, atau mengeringkan punggung setelah mandi, bahu anda terasa seperti ada sesuatu yang menjepit di dalamnya. Nyeri ini familiar bagi jutaan orang dan penyebabnya paling sering adalah subacromial pain syndrome (SAPS) atau nyeri bahu subakromial, kondisi keluhan bahu yang paling sering terjadi di klinik rawat jalan.
Apa itu Subacromial Pain Syndrome (SAPS)?
Subacromial pain syndrome (SAPS) atau nyeri bahu subakromial adalah istilah yang digunakan untuk keluhan bahu non-traumatik yang terutama terasa nyeri saat lengan diangkat ke atas kepala. Kondisi ini mencakup berbagai kondisi di ruang subakromial (celah antara ujung tulang belikat / akromion dan kepala tulang lengan atas), termasuk tendinosis supraspinatus, tendinitis kalsifikasi, dan robekan rotator cuff degeneratif [1,2].
Perlu diketahui: istilah 'impingement' yang dulu populer kini mulai ditinggalkan oleh komunitas medis internasional. Panduan Dutch Orthopedic 2026 yang disusun oleh lebih dari 15 spesialis dari berbagai disiplin menegaskan bahwa 'subacromial pain syndrome' menggambarkan kondisi ini lebih akurat, karena mekanisme nyeri ternyata lebih kompleks dari sekadar 'penjepitan' mekanis semata [1]. Namun dalam artikel ini, kedua istilah digunakan bergantian karena 'impingement' masih dikenal luas. Di Indonesia, dengan prevalensi pekerjaan yang melibatkan gerakan overhead (gerakan mengangkat atau mengayunkan tangan di atas kepala) berulang (buruh, petani, ibu rumah tangga, pekerja konstruksi), SAPS adalah salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering terjadi.
Mekanisme: Apa yang Terjadi di Dalam Bahu?
Bayangkan bahu Anda sebagai sebuah terowongan sempit. Di dalam terowongan itu ada tendon rotator cuff (terutama tendon supraspinatus) dan bursa subakromial (kantong pelumas kecil) . Di atasnya ada 'atap' berupa akromion.

Dalam kondisi normal, terowongan ini memberi ruang cukup bagi tendon bergerak bebas. Ketika ada faktor-faktor tertentu yang menyempitkan ruang ini seperti postur membungkuk yang menggeser Tulang belikat ke depan, otot-otot yang lemah, atau perubahan degeneratif pada akromion. Setiap kali Anda mengangkat tangan, tendon mengalami penekanan dan iritasi berulang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kelemahan dan disfungsi kontrol skapula (tulang belikat) berperan sangat besar dalam kondisi ini. Meta-analisis 2024 mengkonfirmasi bahwa latihan stabilisasi skapula secara signifikan mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi bahu pada pasien SAPS [3]. Ini adalah berita baik karena kelemahan otot adalah sesuatu yang bisa diperbaiki dengan latihan yang tepat dan konsisten.
Gejala yang Perlu Dikenali
- 'Painful arc': nyeri muncul saat lengan diangkat antara 60–120 derajat dari sisi tubuh (seperti membentuk busur), lalu nyeri berkurang lagi saat lengan terangkat lebih tinggi
- Nyeri di bagian luar atau atas bahu yang kadang menjalar ke lengan atas
- Nyeri memburuk saat tidur miring ke sisi bahu yang sakit Kesulitan gerakan di atas kepala: mengambil barang dari rak tinggi, menyisir atau mengikat rambut, memakai baju, menggapai sabuk pengaman
- Kelemahan ringan saat mengangkat lengan atau terasa 'lebih berat dari biasanya'
- Kadang terdengar atau terasa krepitus (suara krek/gemeretak) saat bergerak
Faktor Risiko
- Postur kerja membungkuk, terutama pengguna komputer dengan bahu condong ke depan selama berjam-jam
- Kelemahan otot-otot yang melekat dan bekerja menggerakkan serta menstabilkan skapula (tulang belikat) dan rotator cuff (otot-otot yang bertugas menstabilkan sendi bahu)
- Olahraga overhead dengan volume tinggi: bulu tangkis, renang, voli, tenis, softball
- Pekerjaan yang membutuhkan posisi tangan di atas bahu berulang: kuli bangunan, pelukis tembok, petani, ibu rumah tangga
- Usia 35–60 tahun -> insidensi meningkat seiring usia akibat perubahan degeneratif bertahap
- Peningkatan volume latihan yang terlalu cepat (overtraining tanpa recovery yang cukup)
- Riwayat cedera bahu sebelumnya tidak ditangani dengan baik
Pendekatan Latihan Berbasis Bukti
Dutch Orthopedic Association 2026 dan JOSPT CPG 2025 secara tegas merekomendasikan rehabilitasi non-bedah sebagai tatalaksana lini pertama SAPS [1,2]. Program latihan yang efektif berfokus pada dua hal utama: (1) koreksi postur dan posisi skapula, dan (2) penguatan otot rotator cuff dan stabilisator skapula. Latihan dilakukan dalam ambang nyeri, boleh ada nyeri ringan saat berlatih, tapi tidak lebih dari skala 3/10 dan harus kembali ke baseline dalam 24 jam. Note: Nyeri dapat dinilai menggunakan skala 0–10; 0 menunjukkan tidak nyeri, 10 menunjukkan nyeri berat
Fase 1 — Koreksi Postur dan Kontrol Nyeri
Chin Tuck: duduk atau berdiri tegak, tarik dagu ke belakang membentuk 'double chin' — tahan 5 detik, ulangi 10–15 kali, 3x sehari. Memperbaiki posisi leher dan bahu secara bersamaan.
Scapular retraction & Protraction : 'kencangkan' kedua tulang belikat ke arah tulang belakang seolah mencoba menjepit pensil di antara keduanya , lalu dorong kembali. tahan 5 detik, 10–15 kali, 3x sehari.
Finger Walk: Jari-jari tangan "Berjalan" ke atas di tembok secara perlahan untuk melatih Range Of Motion bahu, lakukan 3 x 8 Reps, 2-3x sehari
REGRESSION: Lakukan semua latihan dengan skala nyeri dibawah 3/10, jika lebih dari itu hentikan
Level 2 & 3
Coming Soon...
Referensi Pendukung
- Lambers Heerspink FO, Veen EJD, Dorrestijn O, et al. Update of guideline for diagnosis and treatment of subacromial pain syndrome: a multidisciplinary review by the Dutch Orthopedic Association. Part 1: preventive measures, diagnostics, and non-surgical treatment. Acta Orthop. 2026;97:95-98.doi:
doi:10.2340/17453674.2026.45365Buka sumber - Beneciuk JM, Kim HM, Michener LA, et al. Rotator Cuff Tendinopathy Diagnosis, Nonsurgical Medical Care, and Rehabilitation: A Clinical Practice Guideline. J Orthop Sports Phys Ther. 2025;55(4):235-274.doi:
doi:10.2519/jospt.2025.13182Buka sumber - Zhong Z, Zang W, Tang Z, Pan Q, Yang Z, Chen B. Effect of scapular stabilization exercises on subacromial pain syndrome: a systematic review and meta-analysis of RCTs. Front Neurol. 2024;15:1357763.doi:
doi:10.3389/fneur.2024.1357763Buka sumber - Steuri R, Sattelmayer M, Elsig S, et al. Effectiveness of conservative interventions including exercise, manual therapy and medical management in adults with shoulder impingement: systematic review and meta-analysis of 74 RCTs. Br J Sports Med. 2017;51(20):1466-1472.doi:
doi: 10.1136/bjsports-2016-096515.Buka sumber - Al Hammadi MI, Shah ZA, Rathod RK, Seddik MA. Shoulder Impingement Pain Syndrome: Pathophysiology, Diagnosis, and a Review of Current Treatment Strategies. Cureus. 2025.doi:
doi:10.7759/cureus.92045Buka sumber - Saito H, Harrold ME, Cavalheri V, McKenna L. Scapular focused interventions to improve shoulder pain and function in adults with subacromial pain: A systematic review and meta-analysis. Physiother Theory Pract. 2018 Sep;34(9):653-670.doi:
doi: 10.1080/09593985.2018.1423656.Buka sumber - Holmgren T, Bjornsson Hallgren H, Oberg B, Adolfsson L, Johansson K. Effect of specific exercise strategy on need for surgery in patients with subacromial impingement syndrome: randomised controlled trial. BMJ. 2012;344:e787.doi:
doi:10.1136/bmj.e787Buka sumber







