Sedang bermain futsal, jatuh salah tumpuan, dan tiba-tiba bahu Anda terasa bergeser keluar dari tempatnya, rasa sakitnya luar biasa, dan bahu Anda tampak berbeda dari biasanya. Atau mungkin ini sudah terjadi untuk ketiga kalinya. Dislokasi bahu adalah cedera akut yang paling sering terjadi pada sendi besar dan penanganan serta rehabilitasi yang tepat setelah kejadian ini sangat menentukan apakah Anda akan pulih penuh atau terus mengalami kekambuhan.
Apa itu Dislokasi Bahu?
Dislokasi bahu atau glenohumeral dislocation terjadi ketika kepala tulang lengan atas (caput humeri) terlepas sepenuhnya dari rongga sendi bahu (fossa glenoidalis). Berbeda dari subluksasi, di mana kepala tulang 'tergelincir' sebagian lalu masuk kembali sendiri.
Sebanyak 95–97% dislokasi bahu terjadi ke arah anterior (ke depan), kepala humerus tergelincir ke depan dan ke bawah keluar dari rongganya. Dislokasi posterior (ke belakang) jauh lebih jarang dan biasanya terjadi akibat kejang otot atau cedera spesifik [1].
Mekanisme Cedera
Dislokasi anterior paling sering terjadi saat lengan berada dalam posisi abduksi (terangkat ke samping) dan rotasi eksternal (putaran ke luar) posisi klasiknya adalah saat jatuh dengan tangan terentang, atau saat tackle dalam olahraga kontak. Pada posisi ini, kepala humerus terdorong ke depan. Insiden dislokasi bahu tertinggi pada pria usia 16–20 tahun, terutama yang aktif dalam olahraga kontak. Meta-analisis menunjukkan bahwa 86% kasus dislokasi bahu terjadi pada olahraga kontak seperti rugby, bola tangan, judo, dan bela diri.[2]. Di Indonesia, futsal, sepak bola, dan bela diri adalah olahraga kontak yang paling umum.
Gejala
- Nyeri hebat mendadak sering digambarkan sebagai 'nyeri yang belum pernah dirasakan sebelumnya'
- Bahu terlihat 'berbeda' mungkin ada tonjolan di depan atau hilangnya lekukan bahu yang normal
- Tidak bisa menggerakkan lengan sama sekali setelah kejadian
- Mati rasa atau kesemutan di lengan, terutama di area deltoid (bagian luar bahu) menandakan penekanan pada nervus aksilaris (saraf yang melewati bahu)
- Setelah penanganan (reduksi), bahu terasa 'lebih aman' tapi masih nyeri dan terbatas geraknya selama beberapa minggu
Faktor Risiko Kekambuhan
Tidak semua dislokasi memiliki risiko kekambuhan yang sama. Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko dislokasi berulang:
- Usia muda saat dislokasi pertama: risiko kekambuhan mencapai 80–90% pada pria di bawah usia 20 tahun tanpa penanganan optimal [2,3]
- Partisipasi dalam olahraga kontak terutama jika kembali bermain terlalu cepat sebelum rehabilitasi tuntas
- Kerusakan labrum (Bankart lesion) atau kerusakan tulang (Hill-Sachs lesion / bony Bankart) pada kejadian pertama
- Hipermobilitas sendi
- Rehabilitasi yang tidak tuntas setelah dislokasi pertama__
Pendekatan Latihan Berbasis Bukti
Meta-analisis terbaru (2025) menunjukkan bahwa rehabilitasi yang disupervisi lebih efektif daripada latihan mandiri dalam memulihkan fungsi bahu setelah dislokasi, terutama dalam 12 minggu pertama [4]. Program rehabilitasi dibagi dalam tiga fase yang jelas:
Fase 1 - Proteksi dan Pengendalian Nyeri
Tujuan: lindungi jaringan yang baru sembuh, kendalikan nyeri dan pembengkakan, pertahankan mobilitas minimal.
Sling immobilization : umumnya disarankan 1–3 minggu tergantung keputusan dokter. Gunakan sesuai instruksi -> jangan lepas terlalu cepat atau terlalu lama.
Pendulum exercise(bisa dimulai setelah hari ke-3–5 dengan clearance dokter) bungkukkan badan, biarkan lengan tergantung, lakukan gerakan lingkaran kecil sangat perlahan dengan gravitasi lakukan selama 2 menit, 2x sehari.
Grip dan wrist exercises : kepalkan tangan dan remas bola lunak
Fase 2 & 3
Coming Soon...
Referensi Pendukung
- Schwank A, Blazey P, Asker M, et al. 2022 Bern Consensus Statement on shoulder injury prevention, rehabilitation, and return to sport. J Orthop Sports Phys Ther. 2022;52(1):11-28.doi:
doi:10.2519/jospt.2022.10952Buka sumber - Kavaja L, Pakarinen H, Ponkilainen VT, et al. Supervised vs self-managed exercise for shoulder dislocation: systematic review and meta-analysis. Sports. 2025;13(1):23.doi:
doi:10.3390/sports13010023Buka sumber - Vemmelund MI, Rasmussen S. The role of early and delayed surgery in return to sport after anterior shoulder dislocation: scoping review. J Clin Med. 2025;14(19):7045.doi:
doi:10.3390/jcm14197045Buka sumber - Ialenti MN, Mulvihill JD, Feinstein M, Zhang AL, Feeley BT. Return to play following shoulder stabilization: systematic review and meta-analysis. Orthop J Sports Med. 2017;5(6).doi:
doi: 10.1177/2325967117726055Buka sumber - Coyle M, Jaggi A, Weatherburn L, Daniell H, Chester R. Post-operative rehabilitation following traumatic anterior shoulder dislocation: systematic scoping review. Shoulder Elbow. 2022.doi:
doi:10.1177/17585732221089636Buka sumber







