Anda seorang pemain bulu tangkis dan mulai merasakan bahu yang 'klik' atau terasa tidak stabil setiap kali melakukan smash atau servis overhead. Atau mungkin bahu Anda pernah bahu 'bergeser keluar' sebentar lalu masuk kembali sendiri. Jika ini yang Anda alami, Anda mungkin menghadapi SLAP tear, robekan pada labrum di bagian atas rongga sendi bahu yang sering terjadi pada atlet overhead. Artikel ini menjelaskan apa yang perlu Anda ketahui.
Apa itu SLAP Tear?
Labrum adalah cincin jaringan kartilago (tulang rawan) yang mengelilingi rongga sendi bahu (glenoid), berfungsi memperdalam rongga agar kepala tulang lengan atas lebih stabil. SLAP tear adalah robekan pada labrum di bagian atas (superior) yang meluas ke depan (anterior) dan belakang (posterior) itulah asal nama SLAP: Superior Labrum Anterior to Posterior.

Titik robekan ini tepat dimana tendon biseps kepala panjang (biceps long head) menempel pada tulang sehingga _SLAP tear _sering disertai keterlibatan tendon biseps. Ada beberapa tipe SLAP tear; Tipe II adalah yang paling umum (lebih dari 50% kasus) dan ditandai dengan terlepasnya labrum dari tulang.
Mekanisme Cedera
SLAP tear dapat terjadi melalui dua mekanisme utama. Pertama, trauma akut: jatuh dengan tangan terentang, gerakan melempar yang kuat secara tiba-tiba, atau tarikan mendadak pada lengan (misalnya saat meraih benda yang jatuh). Kedua, cedera repetitif atau overuse: pengulangan gerakan overhead ribuan kali seperti pada atlet bulu tangkis, perenang, pemain voli, atau pekerja yang sering mengangkat di atas kepala. Pada olahraga bulu tangkis gerakan smash and clear melibatkan kecepatan rotasi bahu yang sangat tinggi, membuat sendi bahu bekerja mendekati batas toleransi mekanisnya setiap kali melakukan gerakan tersebut.
Gejala yang Khas
- Nyeri dalam (deep shoulder pain) yang sulit dilokalisasi dengan tepat
- Sensasi ‘klik’, 'pop', atau 'catching' saat memutar lengan atau gerakan overhead
- Rasa tidak stabil atau 'bahu mau lepas' saat gerakan _overhead _tertentu
- Nyeri saat lemparan overhead, smash, atau servis
- Penurunan performa atletik: berkurangnya kecepatan atau kekuatan lemparan
- Kadang nyeri menjalar ke otot biseps di bagian depan lengan atas
Faktor Risiko
- Atlet overhead dengan volume latihan tinggi: bulu tangkis, renang, voli, bisbol, softball
- Peningkatan volume latihan yang terlalu cepat (rapid ramp-up in training load)
- Kekuatan yang tidak seimbang: rotasi internal jauh lebih kuat dari rotasi eksternal
- Keterbatasan rotasi internal bahu (GIRD : Glenohumeral Internal Rotation Deficit)
- Riwayat instabilitas atau dislokasi bahu sebelumnya
Program Latihan Berbasis Bukti
Penelitian menunjukkan bahwa banyak kasus SLAP tear — terutama tipe I dan beberapa tipe II — merespons baik terhadap rehabilitasi konservatif selama 8-12 minggu [1,2,3]. Komponen utama rehabilitasi meliputi:
Fase 1 — Pengendalian Nyeri dan Perlindungan
Tujuan utama: Mengurangi nyeri dan menghindari gerakan yang memprovokasi. Batasi gerakan overhead dan gerakan melempar.
- Pendulum exercise : ayunan lengan pasif untuk menjaga mobilitas minimal tanpa membebani labrum
- Scapular retraction isometric : dorong tulang belikat ke belakang tanpa gerakan lengan -> tahan 5 detik, 10 repetisi
- Grip strengthening dengan stress ball : jaga kekuatan tangan dan lengan bawah
Level 2 & 3
Coming Soon...
Referensi Pendukung
- Schwank A, Blazey P, Asker M, et al. 2022 Bern Consensus Statement on shoulder injury prevention, rehabilitation, and return to sport for athletes at all participation levels. J Orthop Sports Phys Ther. 2022;52(1):11-28.doi:
doi:10.2519/jospt.2022.10952Buka sumber - Chang D, Mohana-Borges A, Borso M, Chung CB. SLAP lesions: anatomy, clinical presentation, MR imaging diagnosis and characterization. Eur J Radiol. 2008;68(1):72-87.doi:
doi:10.1016/j.ejrad.2008.02.026Buka sumber - Provencher MT, McCormick F, Dewing C, McIntyre S, Solomon D. A prospective analysis of 179 type 2 superior labrum anterior and posterior repairs. Am J Sports Med. 2013;41(4):880-886.doi:
DOI: 10.1177/0363546513477363Buka sumber - Fedoriw WW, Ramkumar P, McCulloch PC, Lintner DM. Return to play after treatment of superior labral tears in professional baseball players. Am J Sports Med. 2014;42(5):1155-1160.doi:
doi:10.1177/0363546514528096Buka sumber - Coleman SH, Cohen DB, Drakos MC, et al. Arthroscopic repair of type II superior labral anterior posterior lesions with and without acromioplasty: a clinical analysis of 50 patients. Am J Sports Med. 2007;35(5):749-753.doi:
DOI: 10.1177/0363546506296735Buka sumber - Boileau P, Parratte S, Chuinard C, Roussanne Y, Shia D, Bicknell R. Arthroscopic treatment of isolated type II SLAP lesions. Am J Sports Med. 2009;37(5):929-936.doi:
doi:10.1177/0363546508330127Buka sumber







