Baru saja mendarat setelah melompat di lapangan basket, lalu kaki Anda salah pijak di kaki lawan dan pergelangan terasa terkilir. Atau mungkin tumit terasa kaku dan nyeri setiap pagi setelah rutin berlari. Cedera kaki dan pergelangan kaki memang sangat sering terjadi saat olahraga dan sering kambuh lagi. Cedera pergelangan kaki mencakup sekitar 10–30% dari semua cedera olahraga. Di Indonesia, ankle sprain (keseleo pergelangan kaki) diperkirakan terjadi hingga 600.000 kasus setiap tahun. Yang perlu diwaspadai, sekitar 40% orang yang pernah mengalami ankle sprain masih merasakan nyeri atau pergelangan terasa tidak stabil karena penanganannya belum tuntas. Padahal, banyak cedera ini sebenarnya bisa dicegah. Artikel ini akan membahas cara sederhana untuk menjaga kaki dan pergelangan kaki tetap sehat, baik untuk pelari yang ingin menghindari nyeri tumit, atlet yang ingin mencegah keseleo berulang, maupun siapa saja yang ingin tetap aktif dan nyaman bergerak dalam jangka panjang.
Mengapa Kaki dan Pergelangan Kaki Rentan Cedera?
Pergelangan kaki adalah sendi yang menanggung seluruh berat tubuh dalam setiap langkah. Saat berlari, beban yang diterima sendi mencapai 2,5–3 kali berat badan per langkah dan ini terjadi ratusan hingga ribuan kali per sesi olahraga. Kaki juga merupakan fondasi seluruh rantai kinetik tubuh: biomekanik kaki yang buruk akan memengaruhi lutut, pinggul, bahkan punggung bawah.
Faktor Risiko
- Riwayat cedera sebelumnya yang tidak pulih sempurna: khususnya ankle sprain yang tidak dilakukan rehabilitasi. Pergelangan kaki yang pernah sprain memiliki risiko cedera ulang 3–5 kali lebih tinggi jika proprioception dan kekuatan tidak dipulihkan
- Kelemahan otot betis, peroneal, dan intrinsik kaki: Otot-otot ini adalah stabilisator aktif pergelangan kaki. Ketika lemah, beban diserap sepenuhnya oleh ligamen yang lebih rentan robek
- Proprioception pergelangan kaki yang buruk (kemampuan sendi merasakan posisinya): Sendi yang tidak terlatih bereaksi terlambat terhadap permukaan tidak rata
Program Latihan Pencegahan Cedera Kaki & Pergelangan Kaki
Berdasarkan_ International Ankle Consortium Consensus Statement 2019, JOSPT Clinical Practice Guideline_, dan beberapa systematic review terbaru, program pencegahan cedera kaki yang efektif mencakup tiga level yang harus dijalankan bersama
Warm-up yang efektif untuk kaki bukan sekadar jogging ringan. Tujuannya adalah mengaktifkan sistem neuromuskular (saraf dan otot) agar sendi bereaksi lebih cepat terhadap perubahan permukaan dan arah. Penelitian pada atlet olahraga tim menunjukkan bahwa warm-up neuromuskular terstruktur 8–10 menit menurunkan risiko ankle sprain hingga 35% [5].
Referensi Pendukung
- Gribble PA, Bleakley CM, Caulfield BM, et al. Evidence review for the 2016 International Ankle Consortium consensus statement on the prevalence, impact and long-term consequences of lateral ankle sprains. Br J Sports Med. 2016;50(24):1496–505.doi:
10.1136/bjsports-2016-096189Buka sumber - Delahunt E, Bleakley CM, Bossard DS, et al. Clinical assessment of acute lateral ankle sprain injuries (ROAST): 2019 consensus statement and recommendations of the International Ankle Consortium. Br J Sports Med. 2018;52(20):1304–10.doi:
10.1136/bjsports-2017-098885Buka sumber - Murphy M, Travers M, Gibson W, et al. Rate of improvement of pain and function in mid-portion Achilles tendinopathy with loading protocols: a systematic review and longitudinal meta-analysis. Sports Med. 2018;48(8):1875–91.doi:
10.1007/s40279-018-0932-2Buka sumber - Richter M, de Cesar Netto C. Weightbearing CT (WBCT) in foot and ankle – State of the art 2024. Foot Ankle Surg. 2024;30(8):613-625. doi: 10.1016/j.fas.2024.08.012.doi:
10.1016/j.fas.2024.07.010Buka sumber







