ResepGerak.ID
Cedera Umum

Stress Fracture Metatarsal: Panduan Berbasis Bukti

Nyeri pada punggung kaki yang dirasakan terus menerus? Kenali gejala stress fracture metatarsal dan panduan latihan berbasis bukti

Ilustrasi: Stress Fracture Metatarsal: Panduan Berbasis Bukti

Anda telah meningkatkan jadwal latihan lari belakangan ini, dan perlahan muncul nyeri di punggung kaki yang awalnya hanya terasa setelah berlari, namun kini muncul bahkan saat berjalan. Ini bisa menjadi tanda stress fracture metatarsal, cedera tulang akibat akumulasi mikro-trauma yang sering disebut silent injury karena sering tidak tampak pada X-Ray awal dan bisa diabaikan hingga berkembang menjadi fraktur penuh.

Apa itu Stress Fracture Metatarsal?

Stress fracture (fraktur stres) adalah retakan pada tulang yang berkembang akibat akumulasi beban berulang. Berbeda dari patah tulang akibat benturan langsung (traumatik), stress fracture terjadi secara bertahap mulai dari reaksi stres (tulang bereaksi tanpa retakan nyata) hingga patah tulang penuh yang posisinya bisa bergeser [1,2]. Tulang metatarsal, lima tulang panjang yang membentuk punggung kaki, menanggung beban yang sangat besar saat berlari dan melompat. Metatarsal ke-2 dan ke-3 adalah yang paling sering terkena stress fracture pada pelari (50–70% kasus), sedangkan metatarsal ke-5 (kelingking) adalah yang paling bermasalah karena suplai darah di area ini sangat terbatas [2,3].

Mekanisme

Tulang adalah struktur yang terus-menerus mengalami perubahan dalam tingkat seluler [1]. Jika beban latihan meningkat terlalu cepat tanpa istirahat cukup, akumulasi kerusakan kecil yang terus-menerus melampaui kemampuan perbaikan tulang, menyebabkan terbentuknya retakan. Faktor biomekanik seperti pola kaki supinasi (miring ke arah luar), kelemahan otot tibialis anterior (tulang kering bagian depan), dan panjang metatarsal juga mempengaruhi distribusi beban dan menentukan metatarsal mana yang paling rentan [4].

Gejala

  • Nyeri di punggung kaki yang muncul perlahan dan memberat selama beberapa minggu
  • Nyeri memburuk selama atau setelah berlari, membaik dengan istirahat
  • Seiring waktu, nyeri muncul lebih awal saat lari, kemudian saat berjalan, dan akhirnya saat istirahat
  • Nyeri tekan yang sangat spesifik saat menekan langsung di atas tulang metatarsal yang terkena[3]
  • Bengkak ringan di punggung kaki, terutama di atas metatarsal yang sakit
  • Kadang terasa nyeri saat menggenggam bola kaki (bagian depan telapak kaki tepat di bawah jari-jari kaki) dari sisi depan dan belakang secara bersamaan (squeeze test positif)

Faktor Risiko

  • Peningkatan volume atau intensitas latihan terlalu cepat
  • Female Athlete Triad / RED-S (Relative Energy Deficiency in Sport): kurang asupan kalori, gangguan menstruasi, kepadatan tulang rendah
  • Kepadatan tulang rendah (osteopenia/osteoporosis)
  • Kaki dengan supinasi berlebihan maupun kaki dengan lengkung tinggi
  • Kekurangan vitamin D dan kalsium
  • Berlari di permukaan keras tanpa pergantian permukaan (selalu di aspal)
  • Sepatu yang sudah aus atau bantalan terlalu keras

Panduan Latihan Berbasis Bukti

Program rehabilitasi stress fracture metatarsal dibagi berdasarkan derajat keparahan. Dokter akan menentukan apakah perlu imobilisasi total atau bisa dilanjutkan dengan aktivitas yang dimodifikasi . Prinsip umum: jangan kembali berlari kecuali sudah tidak ada nyeri saat berjalan biasa dan tidak ada nyeri tekan langsung.

Fase 1 (Proteksi & Imobilisasi)

  • Penggunaan sepatu boot atau cast walker (walking boot) untuk mengurangi beban pada metatarsal
  • Kruk jika tidak bisa menumpu berat badan tanpa nyeri
  • Latihan hip dan tungkai atas tetap dapat dilakukan (Straight Leg Raise,Clam Shell, Abduksi, Adduksi)
  • Optimasi nutrisi: pastikan asupan kalsium dan vitamin D tercukupi
Clamshell - 3x10 reps
Straight Leg Raise - 3x10 Reps

Fase 2&3

Coming soon

Referensi Pendukung

  1. Warden SJ, Edwards WB, Willy RW. Optimal load for managing low-risk tibial and metatarsal stress fractures to prevent recurrence and improve return to sport. Curr Osteoporos Rep. 2021;19(4):368–79.doi: 10.1007/s11914-021-00683-3Buka sumber
  2. Tenforde AS, Carlson JL, Sainani KL, et al. Sport and triad risk factors influence bone mineral density in collegiate athletes. Med Sci Sports Exerc. 2018;50(12):2536–43.doi: 10.1249/MSS.0000000000001711Buka sumber
  3. Sun J, Feng C, Liu Y, et al. Risk factors of metatarsal stress fracture associated with repetitive sports activities: a systematic review. Front Bioeng Biotechnol. 2024;12:1435807. Published 2024 Aug 8.doi: 10.3389/fbioe.2024.1435807Buka sumber
  4. Paavana T, Rammohan R, Hariharan K. Stress fractures of the foot - current evidence on management. J Clin Orthop Trauma. 2024;50:102381. Published 2024 Feb 22.doi: 10.1016/j.jcot.2024.102381Buka sumber
  5. Herterich V, Baumbach SF, Kaiser A, Böcker W, Polzer H. Fifth Metatarsal Fracture–A Systematic Review of the Treatment of Fractures of the Base of the Fifth Metatarsal Bone. Dtsch Arztebl Int. 2021;118(35-36):587-594.doi: 10.3238/arztebl.m2021.0231Buka sumber
Editorial

Artikel Terkait

Artikel lain di Cedera Umum, Pergelangan Kaki & Kaki.

Lihat semua di section ini