Ankle sprain adalah cedera muskuloskeletal paling umum dalam olahraga, namun justru karena dianggap biasa, banyak yang salah menanganinya hingga berujung pada nyeri yang berkepanjangan dan ankle yang tidak stabil.
Apa itu Ankle Sprain?
Ankle sprain adalah cedera ligamen pergelangan kaki akibat gerakan yang melampaui rentang gerak normal sendi. Ligamen merupakan jaringan ikat kuat yang menghubungkan tulang ke tulang yang dalam kasus ini mengalami peregangan atau robekan, baik sebagian maupun total. Sebanyak 85% ankle sprain mengenai sisi luar kaki (lateral ankle sprain). Ankle sprain menyumbang 10–30% dari seluruh cedera olahraga dan merupakan penyebab tersering hilangnya waktu berlatih pada atlet.
Mekanisme
Mekanisme tersering adalah inversi paksa, ketika kaki berputar ke dalam (telapak menghadap ke dalam) sambil sedikit plantar fleksi (menekuk ke bawah). Posisi ini menempatkan ligamen, terutama ATFL (Anterior Talofibular Ligament) dalam kondisi paling tegang, sehingga ligamen ini paling sering menjadi bagian pertama yang cedera atau robek. Mekanisme lain meliputi eversi (kaki terpelintir ke luar, lebih jarang namun lebih berat), dan cedera rotasi pada olahraga kontak. Kondisi lapangan tidak rata, kelelahan otot, dan sepatu yang tidak sesuai meningkatkan risiko terjadinya cedera.

Gejala
- Nyeri langsung setelah cedera, memburuk dengan beban berat badan atau gerakan sendi
- Bengkak yang muncul cepat dalam 1–2 jam pertama, terutama di sisi luar pergelangan kaki
- Memar muncul dalam 24–48 jam setelah cedera
- Kekakuan sendi dan gerakan terbatas
- Rasa tidak stabil pada sendi
Faktor Risiko
- Riwayat ankle sprain sebelumnya
- Olahraga dengan perubahan arah mendadak: basket, voli, sepak bola, badminton, tenis
- Hiperpronasi (telapak kaki yang terlalu rata/overpronasi) atau cavus foot (lengkung kaki sangat tinggi)[4]
- Kelemahan otot peroneal (otot di sisi luar tungkai bawah yang berfungsi sebagai stabilisator)
- Propriosepsi yang buruk (kemampuan sendi merasakan posisinya sendiri yang terganggu)
- Permukaan lapangan tidak merata, pencahayaan buruk, atau sepatu yang tidak sesuai
Program Latihan Berbasis Bukti
Program latihan berbasis bukti terkini bergeser dari imobilisasi ketat menuju functional rehabilitation. Rehabilitasi aktif dini terbukti menghasilkan pemulihan lebih cepat dibanding istirahat total.
Fase 1 (Proteksi & Pengendalian Nyeri)
Prinsip POLICE (Protection, Optimal Loading, Ice, Compression, Elevation)
- Protection: hindari beban berlebih, gunakan kruk jika perlu, tetapi imobilisasi total tidak dianjurkan
- Optimal Loading: mulai bergerak pelan dan bertumpu sedikit demi sedikit sesuai kemampuan tubuh
- Ice: kompres es 15–20 menit setiap 2–3 jam selama 48–72 jam pertama, lapisi es dengan handuk tipis (es jangan langsung mengenai kulit)
- Compression: perban elastis untuk mengurangi bengkak
- Elevation: posisikan kaki lebih tinggi dari jantung saat istirahat
Fase 2&3
Coming Soon
Referensi Pendukung
- Herzog MM, Kerr ZY, Marshall SW, Wikstrom EA. Epidemiology of Ankle Sprains and Chronic Ankle Instability. J Athl Train. 2019;54(6):603-610. doi:10.4085/1062-6050-447-17doi:
10.4085/1062-6050-447-17Buka sumber - Vuurberg G, Hoorntje A, Wink LM, et al. Diagnosis, treatment and prevention of ankle sprains: update of an evidence-based clinical guideline. Br J Sports Med. 2018;52(15):956.doi:
10.1136/bjsports-2017-098106.Buka sumber - Zahra W, Meacher H, Heaver C. Ankle sprains: a review of mechanism, pathoanatomy and management. Orthop Trauma. 2024 Feb;38(1):25-34.doi:
10.1016/j.mporth.2023.11.005.Buka sumber - Delahunt E, Bleakley CM, Bossard DS, et al. Clinical assessment of acute lateral ankle sprain injuries (ROAST): 2019 consensus statement and recommendations of the International Ankle Consortium. Br J Sports Med. 2018;52(20):1304–10.doi:
10.1136/bjsports-2017-098885.Buka sumber - Van den Bekerom MP, Kerkhoffs GM, McCollum GA, Calder JD, van Dijk CN. Management of acute lateral ankle ligament injury in the athlete. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 2013;21(6):1390-1395.doi:
10.1007/s00167-012-2252-7Buka sumber - Martin RL, Davenport TE, Fraser JJ, et al. Ankle stability and movement coordination impairments: lateral ankle ligament sprains revision 2021. J Orthop Sports Phys Ther. 2021;51(4):CPG1–80.doi:
10.2519/jospt.2021.0302.Buka sumber - Donovan L, Hetzel S, Laufenberg CR, McGuine TA. Prevalence and impact of chronic ankle instability in adolescent athletes. Orthop J Sports Med. 2020;8(2):2325967119900962.doi:
10.1177/2325967119900962Buka sumber - Doherty C, Bleakley C, Hertel J, Caulfield B, Ryan J, Delahunt E. Recovery From a First-Time Lateral Ankle Sprain and the Predictors of Chronic Ankle Instability: A Prospective Cohort Analysis. Am J Sports Med. 2016;44(4):995-1003.doi:
10.1177/0363546516628870Buka sumber - Hertel J, Corbett RO. An Updated Model of Chronic Ankle Instability. J Athl Train. 2019;54(6):572-588. doi:10.4085/1062-6050-344-18doi:
10.4085/1062-6050-344-18Buka sumber







