Nyeri di sisi luar pergelangan kaki yang muncul saat berlari atau berjalan di medan miring — dan sering dikira ankle sprain yang belum sembuh. Peroneal tendinopathy adalah kondisi yang sering terlewatkan, padahal bisa menjadi sumber nyeri kronis yang signifikan pada pelari, pendaki, dan mereka dengan riwayat ankle sprain berulang.
Apa itu Peroneal Tendinopathy?
Peroneal tendinopathy adalah degenerasi atau iritasi pada tendon peroneal — dua tendon (peroneus longus dan peroneus brevis) yang berjalan di sisi luar tungkai bawah, melingkari belakang malleolus lateral (mata kaki bagian luar). Kedua tendon ini berfungsi untuk membantu menjaga pergelangan kaki tetap stabil agar tidak mudah terkilir ke dalam, serta membantu gerakan plantar fleksi (menunjuk kaki ke bawah) [1,2].
Gejala
- Nyeri di sepanjang sisi luar pergelangan kaki dan sedikit di atas mata kaki bagian luar, memburuk saat aktivitas [2]
- Nyeri memburuk saat berjalan di permukaan miring, berlari di tikungan, atau saat menuruni bukit
- Kaki lemah saat digerakkan ke arah luar, sulit mendorong kaki ke luar melawan tahanan [3]
- Pergelangan kaki terasa tidak stabil atau mudah keseleo
Faktor Risiko
- Riwayat lateral ankle sprain berulang — kelemahan dan atrofi otot peroneal (otot mengecil) akibat cedera sebelumnya
- Cavus foot (lengkung kaki sangat tinggi) — meningkatkan beban pada tendon peroneal saat inversi (gerakan kaki ke dalam)
- Pelari yang sering berlatih di permukaan miring atau tikungan sempit
- Kelemahan otot abduktor hip — mengubah biomekanik tungkai dan meningkatkan beban tendon peroneal [3]
Panduan Latihan Berbasis Bukti
Latihan pada peroneal tendinopathy mengikuti prinsip “progressive tendon loading” (pemberian beban pada tendon secara bertahap dan terkontrol) yang dikombinasikan dengan latihan propriosepsi (kemampuan tubuh untuk mengetahui posisi dan gerakan anggota tubuh tanpa harus melihatnya) dan stabilisasi pergelangan kaki [4,5].
- Modifikasi aktivitas: kurangi volume lari dan hindari permukaan miring atau tikungan
- Gunakan heel wedge atau insole dengan dukungan sisi luar untuk mengurangi beban eversi berlebih [5]
- Taping atau brace peroneal untuk mengurangi gesekan tendon pada aktivitas sehari-hari
- Kompres dingin paska aktivitas: 15–20 menit, 2–3 kali sehari
Fase 2&3
Coming Soon
Referensi Pendukung
- Davda K, Malhotra K, O'Donnell P, Singh D, Cullen N. Peroneal tendon disorders. EFORT Open Rev. 2017;2(6):281-292. Published 2017 Jun 22.doi:
10.1302/2058-5241.2.160047Buka sumber - Redfern D, Myerson M. The management of concomitant tears of the peroneus longus and brevis tendons. Foot Ankle Int. 2016;25(10):695–707.doi:
10.1177/107110070402501002Buka sumber - Jildeh TR, Borowsky P, Abbas MJ, et al. Postoperative outcomes following peroneal tendon repair and reconstruction: a systematic review. Orthop J Sports Med. 2023;11(3):23259671231153705.doi:
10.1177/23259671231153705Buka sumber - Lin CI, Khajooei M, Engel T, et al. The effect of chronic ankle instability on muscle activation in lower extremities. PLoS One. 2021;16(2):e0247581.doi:
0.1371/journal.pone.0247581Buka sumber - Samra DJ, Sman AD, Rae K, Linklater J, Refshauge K, Hiller CE. Effectiveness of a single platelet-rich plasma injection to promote recovery in rugby players with ankle syndesmosis injury. BMJ Open Sport Exerc Med. 2015;1(1):e000033.doi:
0.1136/bmjsem-2015-000033Buka sumber - Gribble PA, Bleakley CM, Caulfield BM, et al. 2016 consensus statement of the International Ankle Consortium: prevalence, impact and long-term consequences of lateral ankle sprains. Br J Sports Med. 2016;50(24):1493–5.doi:
doi:10.1136/bjsports-2016-096188Buka sumber







