ResepGerak.ID
Cedera Umum

Nyeri Paha Belakang (Hamstring Strain)

Cedera paha belakang (hamstring strain) adalah salah satu cedera olahraga yang paling umum, tetapi penanganan awalnya sering kali keliru sehingga memperpanjang masa pemulihan. Artikel ini memberikan panduan berdasarkan bukti klinis terbaru.

Ilustrasi: Nyeri Paha Belakang (Hamstring Strain)

Anda sedang berlari kencang, melakukan pendaratan setelah melompat, atau sekadar mengejar bola di lapangan bersama teman, lalu tiba-tiba terasa nyeri tajam seperti ada yang 'tertarik' di paha belakang. Rasa sakit ini seketika memaksa Anda untuk berhenti bergerak. Cedera paha belakang (hamstring strain) adalah salah satu cedera olahraga yang paling umum.

Apa itu Cedera Paha Belakang (Hamstring Strain)?

Otot paha belakang (hamstring) sebenarnya bukanlah satu otot tunggal, melainkan kelompok yang terdiri dari tiga otot utama (biceps femoris, semitendinosus, dan semimembranosus). Otot-otot ini membentang dari panggul bagian bawah (ischial tuberosity) hingga melintasi sendi lutut bagian belakang. Fungsinya sangat krusial saat anda menekuk lutut atau meluruskan panggul, terutama ketika berjalan atau berlari [1].

Cedera paha belakang terjadi ketika serat-serat pada salah satu atau lebih otot tersebut meregang melampaui kapasitasnya, yang dapat menyebabkan robekan kecil, hingga robekan sebagian (parsial) maupun robekan total [2]. Keparahan robekan inilah yang menentukan seberapa lama proses rehabilitasi yang dibutuhkan.

Mekanisme Terjadinya Cedera

Memahami bagaimana cedera ini terjadi adalah kunci untuk mencegahnya di masa depan. Cedera paha belakang paling sering terjadi saat otot harus memanjang sekaligus berkontraksi dengan sangat kuat untuk menahan beban. Kontraksi semacam ini disebut sebagai kontraksi eksentrik (gerakan menahan beban) [3].

Fase paling berisiko adalah saat seseorang mencoba untuk berlari cepat secara mendadak atau pada fase akhir ayunan kaki (terminal swing). Pada momen ini, kaki Anda berayun ke depan sesaat sebelum tumit menyentuh tanah. Otot paha belakang bekerja ekstra keras seperti "rem" untuk menghentikan laju kaki bagian bawah agar sendi lutut tidak teregang berlebihan [1, 3]. Jika beban tarikan melebihi kekuatan dan fleksibilitas jaringan otot, robekan pun terjadi.

Gejala Umum

  • Rasa nyeri tajam yang muncul secara tiba-tiba di bagian belakang paha saat beraktivitas.
  • Sensasi 'meletup', 'bunyi pop', atau robek yang dapat dirasakan saat melakukan gerakan eksplosif.
  • Penurunan fungsi secara mendadak, menyebabkan kesulitan atau kelemahan saat mencoba menekuk lutut.
  • Bengkak dan perubahan warna kulit (memar) yang meluas di area belakang paha hingga ke area belakang lutut, biasanya muncul 24 hingga 48 jam setelah kejadian.

Faktor Risiko: Siapa yang Rentan?

  • Riwayat cedera sebelumnya : Merupakan prediktor paling signifikan. Jaringan yang sudah rusak dari cedera masa lalu yang tidak direhabilitasi dengan optimal akan menurunkan elastisitas otot [6].
  • Ketidakseimbangan kekuatan : Kondisi ketika otot paha depan (quadriceps) jauh lebih dominan dan kuat dibandingkan otot paha belakang, mengakibatkan hamstring gagal mengimbangi tarikan saat berlari [5].
  • Kelelahan : Otot yang lelah kehilangan kemampuannya untuk menyerap energi secara efisien, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap robekan mekanis [5].
  • Usia dan kurangnya fleksibilitas : Seiring bertambahnya usia, otot kehilangan sebagian elastisitas alaminya jika tidak dilatih secara spesifik [6].

Pemulihan Bertahap dan Terukur

Latihan adalah komponen paling krusial dalam pemulihan, namun harus dilakukan dengan tepat. Prinsip utamanya adalah memulai dari beban rendah tanpa nyeri, dan perlahan ditingkatkan seiring dengan adaptasi jaringan [7, 8].

  • Fase Awal : Pada 1-3 hari pertama, prioritasnya adalah mengurangi nyeri dan mengelola pembengkakan. Hindari peregangan berlebihan atau pemijatan keras pada area yang robek. Mulailah dengan kompres es 15 menit 3-4 kali sehari.
  • Fase Lanjut : Setelah anda dapat berjalan tanpa pincang dan nyeri mereda, anda dapat memulai latihan yang melibatkan pergerakan sendi. Latihan yang sangat direkomendasikan adalah latihan eksentrik (gerakan menahan beban) tingkat dasar.

Exercises Level 1

Berjalan Normal

Instruksi: Usahakan berjalan dengan langkah yang seimbang di kedua sisi tubuh; bila perlu gunakan kruk sementara. Dilakukan sesuai kemampuan tubuh dan tanpa memperburuk nyeri.Per toleransi Notes: Jangan sampai salah satu kaki tertinggal atau berjalan pincang, karena pola jalan yang tidak normal dapat memperlambat pemulihan.

Isometric Hamstring Contraction 3 x 5-10 detik

Latihan menahan otot dengan lutut sedikit menekuk lebih aman dilakukan pada fase awal cedera

Lying Hamstring Curl dengan Resistance Band 3 x 10 -15 reps

Hindari latihan jika nyeri lebih dari 4 dari 10; latihan ini bertujuan menjaga koordinasi dan kontrol otot tetap baik

Exercises Level 2 & 3

Coming Soon...

Referensi Pendukung

  1. Ernlund L, Vieira LA. Hamstring injuries: update article. Rev Bras Ortop. 2017 Aug 1;52(4):373-382.doi: doi: 10.1016/j.rboe.2017.05.005.Buka sumber
  2. Erickson LN, Sherry MA. Rehabilitation and return to sport after hamstring strain injury. J Sport Health Sci. 2017 Sep;6(3):262-270.doi: doi: 10.1016/j.jshs.2017.04.001.Buka sumber
  3. Danielsson A, Horvath A, Senorski C, Alentorn-Geli E, Garrett WE, Cugat R, Samuelsson K, Hamrin Senorski E. The mechanism of hamstring injuries - a systematic review. BMC Musculoskelet Disord. 2020 Sep 29;21(1):641.doi: doi: 10.1186/s12891-020-03658-8.Buka sumber
  4. Bourne MN, Timmins RG, Opar DA, Pizzari T, Ruddy JD, Sims C, Williams MD, Shield AJ. An Evidence-Based Framework for Strengthening Exercises to Prevent Hamstring Injury. Sports Med. 2018 Feb;48(2):251-267.doi: doi: 10.1007/s40279-017-0796-x.Buka sumber
  5. Seagrave RA 3rd, Perez L, McQueeney S, Toby EB, Key V, Nelson JD. Preventive Effects of Eccentric Training on Acute Hamstring Muscle Injury in Professional Baseball. Orthop J Sports Med. 2014 Jun 3;2(6):2325967114535351.doi: doi: 10.1177/2325967114535351.Buka sumber
  6. Biz C, Nicoletti P, Baldin G, Bragazzi NL, Crimì A, Ruggieri P. Hamstring Strain Injury (HSI) Prevention in Professional and Semi-Professional Football Teams: A Systematic Review and Meta-Analysis. Int J Environ Res Public Health. 2021 Aug 4;18(16):8272.doi: doi: 10.3390/ijerph18168272.Buka sumber
  7. Maniar N, Shield AJ, Williams MD, Timmins RG, Opar DA. Hamstring strength and flexibility after hamstring strain injury: a systematic review and meta-analysis. Br J Sports Med. 2016 Aug;50(15):909-20.doi: doi: 10.1136/bjsports-2015-095311.Buka sumber
  8. Hickey JT, Timmins RG, Maniar N, Williams MD, Opar DA. Criteria for Progressing Rehabilitation and Determining Return-to-Play Clearance Following Hamstring Strain Injury: A Systematic Review. Sports Med. 2017 Jul;47(7):1375-1387.doi: doi: 10.1007/s40279-016-0667-x.Buka sumber
Editorial

Artikel Terkait

Artikel lain di Cedera Umum, Tungkai Atas.

Lihat semua di section ini