Setiap kali Anda duduk lama di bioskop atau di pesawat, lutut depan Anda mulai terasa nyeri dan terpaksa diluruskan. Atau saat lari, nyeri di sekitar tempurung lutut muncul dan memaksa Anda berhenti. Jika ini yang Anda alami, kemungkinan besar Anda menghadapi PFPS (patellofemoral pain syndrome) atau nyeri lutut depan, kondisi yang merupakan keluhan lutut paling umum di klinik olahraga. Kabar baiknya: PFPS merespons sangat baik terhadap latihan yang tepat, terutama yang menargetkan otot pinggul dan paha.
Apa itu Patellofemoral Pain Syndrome?
Patellofemoral pain syndrome (PFPS) atau nyeri lutut depan adalah kondisi di mana area sekitar atau di balik tempurung lutut (patela) terasa nyeri. Dalam bahasa awam: 'nyeri di dalam atau sekitar tempurung lutut yang muncul saat beban pada sendi lutut meningkat'. PFPS adalah keluhan yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor biomekanik yang membebani sendi patellofemoral (hubungan antara tempurung lutut dan tulang paha) secara berlebihan. Panduan JOSPT 2019 mengidentifikasi beberapa subkategori PFPS berdasarkan defisit yang dominan: kelemahan otot, koordinasi gerak, atau keterbatasan mobilitas [1]. Ini adalah kondisi yang sangat umum: diperkirakan 23–31% dari seluruh cedera yang dilaporkan pelari adalah PFPS, dan merupakan keluhan lutut tersering di klinik olahraga lebih umum dari cedera meniskus atau ligamen [1].

Mekanisme Nyeri
Sendi patellofemoral bekerja seperti sistem 'rel dan katrol' patela bergerak di alur tulang paha (trochlear groove) saat lutut ditekuk dan diluruskan. Ketika sistem ini berjalan mulus, beban terdistribusi merata. Ketika ada ketidakseimbangan otot paha luar terlalu kencang, otot pinggul lemah, atau patela tidak bergerak pada jalurnya tekanan meningkat di satu area dan memicu nyeri. Penelitian menunjukkan bahwa kelemahan otot posterolateral pinggul (otot gluteus medius, external rotators) adalah salah satu kontributor utama PFPS karena kelemahan ini menyebabkan lutut 'jatuh ke dalam' (dynamic valgus) saat berlari atau mendarat, meningkatkan tekanan patellofemoral [1,2]. Inilah mengapa panduan JOSPT 2019 merekomendasikan latihan pinggul sebagai prioritas awal dalam penanganan PFPS.
Gejala
- Nyeri di area sekitar atau di balik tempurung lutut terutama saat menekuk lutut
- 'Movie sign' atau 'theater sign': nyeri muncul saat duduk lama dengan lutut menekuk (di bioskop, di pesawat, di mobil)
- Nyeri saat naik-turun tangga, jongkok, atau berlari terutama saat turun tangga
- Nyeri saat berlari yang memburuk setelah beberapa kilometer, tapi tidak serta-merta menghilang saat berhenti
- Kadang ada suara 'krek' atau krepitus tapi ini tidak selalu berkorelasi dengan tingkat nyeri
- Nyeri bersifat 'tumpul' atau 'dalam' yang sulit ditunjukkan dengan tepat
Fakto Risiko
- Peningkatan volume lari atau latihan yang terlalu cepat 'too much, too soon'
- Kelemahan otot posterolateral pinggul: gluteus medius, external rotators [1,2]
- Kelemahan otot quadriceps terutama VMO (vastus medialis oblique)
- Otot iliotibial band dan quadriceps yang kaku
- Pola pendaratan yang buruk: lutut valgus dinamis saat mendarat atau berlari
- Perempuan, PFPS dua kali lebih umum pada wanita dibandingkan pria [1]
- Penggunaan alas kaki yang tidak sesuai atau perubahan permukaan lari yang tiba-tiba
Pendekatan Latihan Berbasis Bukti
Fase 1 — Pengurangan Nyeri dan Latihan Pinggul Awal
Tujuan: Mengurangi nyeri segera, mengaktifkan otot pinggul posterolateral yang sering lemah pada PFPS.
- Clamshell exercise: berbaring miring, lutut ditekuk 45 derajat, buka tutup seperti kerang dengan theraband di atas lutut. 3 set x 15 repetisi. Fokuskan kontraksi di otot bokong luar.
- Hip abduction: berbaring miring, angkat kaki atas lurus ke atas lalu turunkan kembali perlahan. 3 set x 15 repetisi.
- Glute bridge: berbaring telentang, angkat pinggul membentuk garis lurus bahu-lutut. Tahan 3 detik, turunkan perlahan. 3 set x 15.
- Quad sets: kencangkan otot quadriceps (otot paha depan), tahan 10 detik. 15 kali, 3x sehari.
PENTING: Hindari latihan yang membuat lutut menekuk lebih dari 90 derajat di Fase 1 seperti squat dalam, leg press dalam, dan berlari masih perlu dibatasi.
REGRESSION: Mulai hanya dengan clamshell dan glute bridge jika lutut masih sensitif.
Fase 2 - Integrasi Latihan Lutut
Referensi Pendukung
- Willy RW, Hoglund LT, Barton CJ, et al. Patellofemoral Pain: Clinical Practice Guidelines Linked to the ICF from the Academy of Orthopaedic Physical Therapy APTA. J Orthop Sports Phys Ther. 2019;49(9):CPG1-CPG95.doi:
doi:10.2519/jospt.2019.0302Buka sumber - Rathleff MS, Roos EM, Olesen JL, Rasmussen S. Exercise during school hours when added to patient education improves outcome for 2 years in adolescent patellofemoral pain: a cluster randomised trial. Br J Sports Med. 2015;49(6):406-412.doi:
doi:10.1136/bjsports-2014-093929Buka sumber - Barton CJ, Lack S, Hemmings S, Tufail S, Morrissey D. The 'Best Practice Guide to Conservative Management of Patellofemoral Pain': incorporating level 1 evidence with expert clinical reasoning. Br J Sports Med. 2015;49(14):923-934.doi:
doi:10.1136/bjsports-2014-093637Buka sumber - Lack S, Barton C, Sohan O, Crossley K, Morrissey D. Proximal muscle rehabilitation is effective for patellofemoral pain: a systematic review with meta-analysis. Br J Sports Med. 2015;49(21):1365-1376.doi:
doi:10.1136/bjsports-2015-094723Buka sumber - Neal BS, Barton CJ, Gallie R, O'Halloran P, Morrissey D. Runners with patellofemoral pain have altered biomechanics which targeted interventions can modify: systematic review and meta-analysis. Gait Posture. 2016;45:69-82doi:
doi:10.1016/j.gaitpost.2015.11.018Buka sumber







