Kecelakaan motor dengan lutut menghantam dashboard, atau jatuh saat bermain dengan lutut membentur lantai keras adalah dua skenario yang sering mengakibatkan cedera PCL. Berbeda dari ACL yang terkenal, PCL atau ligamen silang posterior adalah 'sisi yang terlupakan' dari lutut: ligamen terkuat di sendi lutut yang fungsinya sering baru disadari ketika cedera.
Apa itu PCL dan Bagaimana Cederanya?
PCL (Posterior Cruciate Ligament) atau ligamen yang menyilang pada belakang lutut adalah ligamen terkuat dan terbesar di dalam sendi lutut. Ia berjalan dari bagian belakang tulang kering (tibia) ke bagian depan tulang paha (femur), membentuk 'X' bersama ACL (Anterior Cruciate Ligament). Fungsi utamanya adalah mencegah tulang kering bergeser ke belakang, terutama saat lutut dalam posisi menekuk. PCL jauh lebih jarang cedera dibandingkan ACL diperkirakan hanya 3–23% dari seluruh cedera ligamen lutut [1,2]. Namun ketika cedera, PCL sering tidak terdiagnosis karena gejalanya bisa lebih samar dibandingkan ACL, dan banyak pasien masih bisa berjalan meski ada robekan.
Mekanisme Cedera
Mekanisme cedera PCL yang paling umum adalah 'dashboard injury': benturan langsung pada bagian depan lutut yang menekuk seperti lutut membentur dashboard saat kecelakaan, atau jatuh tersungkur dengan lutut menghantam lantai keras. Mekanisme lain termasuk:
- Hiperfleksi lutut yang ekstrem (menekuk lutut terlalu jauh ke belakang)
- Hiperekstensi (meluruskan lutut) mendadak
- Kombinasi dengan cedera ligamen lain pada trauma energi tinggi (kecelakaan kendaraan bermotor, kontak keras dalam olahraga)
Penting untuk diketahui: cedera PCL sering terjadi sebagai bagian dari cedera multi-ligamen (bersamaan dengan MCL (Medial Collateral Ligament, ACL, atau kerusakan sudut posterolateral).
Gejala yang Khas
Gejala PCL injury seringkali lebih subtle (kurang jelas) dibandingkan ACL:
- Nyeri di bagian belakang lutut, berbeda dari nyeri depan yang khas pada cedera ACL
- Bengkak biasanya tidak secepat pada cedera ACL, bisa muncul lebih lambat
- Rasa tidak stabil terutama saat menuruni tangga atau berjalan di permukaan menurun
- Lutut terasa 'lemah' saat menekuk dengan beban (seperti jongkok atau naik tangga)
- Pada kasus kronis yang tidak tertangani: nyeri lutut bagian depan (patellofemoral pain) dan media (sisi dalam)l akibat perubahan mekanika sendi
Faktor Risiko
- Pengendara motor, posisi berkendara menempatkan lutut dalam posisi rentan terhadap dashboard injury
- Olahraga kontak dengan risiko benturan langsung: rugbi, american football, hoki
- Kecelakaan lalu lintas khususnya yang melibatkan benturan pada lutut
- Cedera multi-ligamen sebelumnya yang tidak tertangani tuntas
Pendekatan Rehabilitasi Berbasis Bukti
Konsensus para ahli dari Germany Knee Society 2025 menegaskan bahwa isolated PCL injury terutama grade I dan II umumnya ditangani secara non-bedah dengan hasil yang baik. PCL memiliki kemampuan penyembuhan alami yang lebih baik dibandingkan ACL karena suplai darah yang lebih kaya [1,2]. Prinsip utama rehabilitasi PCL non-bedah: hindari latihan yang mendorong tibia ke belakang (posterior tibial translation), fokus penguatan quadriceps, dan jaga stabilitas patellofemoral.
Fase 1 - Manajemen Nyeri & Inflamasi
Tujuan: lindungi PCL yang sedang menyembuh, aktifkan quadriceps, kontrol bengkak.
- RICE protocol modifikasi: istirahat (bukan imobilisasi total kecuali Grade III yang membutuhkan brace), kompres es 15–20 menit 3–4x sehari, elevasi kaki saat berbaring (menempatkan kaki cedera di posisi yang lebih tinggi daripada jantung).
- Quadriceps activation : kencangkan otot quadriceps. Tahan 10 detik, 15 kali, 3x sehari.
- Straight leg raise: berbaring, angkat kaki lurus 30 derajat, tahan 3 detik. 3 set x 10 repetisi.
- *Heel slides: *geser tumit ke arah bokong perlahan untuk memulihkan kemampuan lutut menekuk . 10 repetisi, 3x sehari.
- Ankle pumps: gerakkan pergelangan kaki naik-turun untuk menjaga sirkulasi. 3x12 Repetisi , 3xSehari (untuk mengurangi bengkak)
PENTING: Hindari valgus stress apapun di Fase 1, jangan biarkan lutut 'jatuh ke dalam' saat latihan. REGRESSION: Ice dan elevasi saja jika nyeri masih sangat intens. Tambahkan latihan bertahap.
Referensi Pendukung
- German Knee Society Ligament Injury Committee. Treatment of isolated injuries of the posterior cruciate ligament — 2025 Delphi-based structured expert statement. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 2025.doi:
DOI: 10.1002/ksa.70187Buka sumber - Nia A, Ghasemzadeh S, Dini M, et al. Balancing stability and recovery: scoping review on conservative vs. surgical management of acute posterior cruciate ligament injuries. Joints. 2025;6(1):24.doi:
doi.org/10.3390/surgeries6010024Buka sumber - Pierce CM, O'Brien L, Griffin LW, Laprade RF. Posterior cruciate ligament tears: functional and postoperative rehabilitation. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 2013;21(5):1071-1084.doi:
doi:10.1007/s00167-012-1970-1Buka sumber - Simhal RK, Bovich M, Bahrun EA, Dreese JC. Postoperative rehabilitation of posterior cruciate ligament surgery: systematic review. Sports Med Arthrosc Rev. 2021;29(2):81-87.doi:
DOI: 10.1097/JSA.0000000000000307Buka sumber - Jacobi M, Reischl N, Wahl J, Gautier E, Jakob RP. Acute isolated injury of the posterior cruciate ligament treated by a dynamic anterior drawer brace. J Bone Joint Surg Br. 2010;92(10):1381-1384.doi:
DOI: 10.1302/0301-620X.92B10.24807Buka sumber







