Pegal di leher dan bahu akibat posisi duduk yang salah? Pelajari metode penguatan otot berbasis ilmiah untuk mengatasi Upper Trap Syndrome.
Upper Trap Syndrome merupakan kondisi ketegangan otot yang umumnya disebabkan oleh postur tubuh yang kurang optimal, dan sering dijumpai sebagai konsekuensi dari pola aktivitas dalam kehidupan modern. Pekerja di depan layar sangat rentan terhadap kondisi ini. Massage dapat meredakan gejala secara sementara. Namun, apabila faktor ergonomi yang mendasari tidak diperbaiki, kondisi ketegangan dan iritasi otot dapat berulang serta berdampak pada penurunan produktivitas. Faktor ergonomi adalah segala hal yang berhubungan dengan kenyamanan dan posisi tubuh saat bekerja atau beraktivitas, seperti posisi duduk yang salah, meja kerja yang tidak sesuai, dan penggunaan komputer dalam waktu yang lama
Kondisi ini terjadi ketika otot kekurangan suplai oksigen dan terdapat penumpukan zat sisa (asam laktat) akibat kontraksi otot yang terjadi dalam waktu lama [1]. Sebagai analogi, bayangkan sebuah karet gelang yang terus ditarik kencang selama berjam-jam tanpa pernah dibiarkan mengendur. Lama-kelamaan, karet tersebut kehilangan elastisitasnya dan menjadi kaku. Otot yang dipaksa menahan beban kepala dalam posisi statis akan mengalami stres.
Anatomi Penyangga Leher
Otot trapezius memiliki tiga bagian, bagian atas otot ini berawal dari tengkorak dan memanjang hingga ke ujung bahu [2]. Otot ini bertugas mengangkat bahu dan menopang berat kepala (rata-rata 4-5 kg). Setiap kali Anda menunduk tajam melihat layar ponsel, beban yang harus ditahan oleh otot ini melonjak drastis hingga dapat menyentuh 20 kg lebih.
Faktor Risiko
Faktor mekanik seperti posisi meja kerja yang buruk (layar terlalu rendah, kursi tidak menopang lengan) adalah pemicu utama [3]. Stres psikologis juga memiliki hubungan yang sangat kuat; ketika mental dan pikiran tegang, tubuh cenderung mempertahankan posisi bahu terangkat (shrugging) yang kemudian menyebabkan ketegangan otot trapezius. Otot mid back yang lemah akan memperburuk keadaan, menyebabkan trapezius bagian atas harus mengkompensasi menjaga postur.
Tanda dan Gejala
Pasien sering mengeluhkan rasa berat yang menetap, pegal, dan sensasi kencang di pangkal leher [4]. Kerap ditemukan trigger points, yakni titik lokal pada otot yang mengeras dan terasa sakit jika ditekan. Ketegangan otot trapezius juga seringkali menjadi pemicu nyeri kepala jenis tension-type headache, gejala yang dirasakan berupa nyeri seperti kepala sedang diikat kencang, tidak berdenyut.
Diagnosis
Diagnosis untuk Upper Trap Syndrome ditegakkan oleh dokter melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan evaluasi postur [5]. Jika tidak terdapat gejala gangguan persarafan spesifik (seperti mati rasa atau kesemutan di jari), pemeriksaan radiologi (X-ray atau MRI) tidak direkomendasikan[6].
Penanganan dan Prognosis
Pendekatan pasif seperti istirahat atau mengompres leher harus dikombinasikan dengan intervensi aktif. Koreksi posisi meja kerja agar lebih ergonomis; posisi layar sejajar dengan pandangan mata, posisi bahu rileks (tidak terangkat), siku disangga, dan punggung bersandar [7]. Studi membuktikan bahwa melakukan resistance training untuk memperkuat otot rear deltoid (bahu belakang) akan membantu menarik bahu ke posisi netral dan mengurangi ketegangan upper trapezius, lebih superior dibanding hanya peregangan otot secara pasif. Prognosis kondisi ini umumnya baik. Perbaikan ergonomi yang dikombinasikan dengan latihan penguatan secara rutin dapat mendukung pemulihan [8]. Namun demikian, keluhan dapat kembali muncul apabila individu kembali pada kebiasaan postur statis dalam jangka waktu lama tanpa disertai penerapan prinsip istirahat aktif.
Panduan Latihan Berbasis Bukti
Level 1
Referensi Pendukung
- Balogh I, Arvidsson I, Björk J, Hansson GÅ, Ohlsson K, Skerfving S, Nordander C. Work-related neck and upper limb disorders - quantitative exposure-response relationships adjusted for personal characteristics and psychosocial conditions. BMC Musculoskelet Disord. 2019 Apr 1;20(1):139doi:
10.1186/s12891-019-2491-6Buka sumber - Shah JP, et al. Myofascial Trigger Points Then and Now: A Historical and Scientific Perspective. PM R. 2015;7(7):746-761doi:
10.1016/j.pmrj.2015.01.024Buka sumber - Genebra CVDS, Maciel NM, Bento TPF, Simeão SFAP, Vitta A. Prevalence and factors associated with neck pain: a population-based study. Braz J Phys Ther. 2017;21(4):274-280.doi:
10.1016/j.bjpt.2017.05.005Buka sumber - Gram B, Andersen C, Zebis MK, Bredahl T, Pedersen MT, Mortensen OS, Jensen RH, Andersen LL, Sjøgaard G. Effect of training supervision on effectiveness of strength training for reducing neck/shoulder pain and headache in office workers: cluster randomized controlled trial. Biomed Res Int. 2014;2014:693013doi:
10.1155/2014/693013Buka sumber - Childs JD, Cleland JA, Elliott JM, Teyhen DS, Wainner RS, Whitman JM, Sopky BJ, Godges JJ, Flynn TW; American Physical Therapy Association. Neck pain: Clinical practice guidelines linked to the International Classification of Functioning, Disability, and Health from the Orthopedic Section of the American Physical Therapy Associationdoi:
10.2519/jospt.2008.0303Buka sumber - Louw S, Makwela S, Manas L, Meyer L, Terblanche D, Brink Y. Effectiveness of exercise in office workers with neck pain: A systematic review and meta-analysisdoi:
10.4102/sajp.v73i1.392Buka sumber - Andersen LL, Saervoll CA, Mortensen OS, Poulsen OM, Hannerz H, Zebis MK. Effectiveness of small daily amounts of progressive resistance training for frequent neck/shoulder pain: randomised controlled trialdoi:
10.1016/j.pain.2010.11.016Buka sumber - World Health Organization (WHO). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour.doi:
https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128Buka sumber







