Bangun tidur dengan leher kaku yang membuat kepala susah diputar dan ini bukan pertama kalinya. Atau Anda menyadari bahwa setelah berjam-jam di depan laptop, ada rasa berat dan nyeri tumpul yang sudah menjadi 'teman lama' di leher dan bahu. Nyeri leher adalah salah satu keluhan otot terbanyak di dunia, menempati urutan keempat dalam Global Burden of Disease sebagai penyebab disabilitas dan sebagian besar kasusnya bisa ditangani secara konservatif dengan pendekatan yang tepat.
Apa itu Nyeri Leher?
Nyeri leher bukan diagnosis tunggal, melainkan gejala yang bisa berasal dari berbagai struktur: otot, ligamen, diskus intervertebralis (bantalan lunak di antara tulang-tulang belakang yang berfungsi untuk meredam benturan), sendi faset (facet joint), atau akar saraf. Memahami sumber nyeri membantu menentukan penanganan yang tepat. Berdasarkan durasi: nyeri leher akut (kurang dari 6 minggu), subakut (6–12 minggu), dan kronik (lebih dari 12 minggu). Sekitar 90% kasus nyeri leher non-spesifik membaik dalam 6 minggu tanpa penangnan khusus, namun angka kekambuhan dalam setahun mencapai 50–85%, menunjukkan pentingnya rehabilitasi aktif dan modifikasi faktor risiko [1].
Jenis-Jenis Nyeri Leher yang Umum
1. Nyeri Leher Non-Spesifik (Tension Neck / Postural Neck Pain)
Penyebab tersering nyeri leher, tidak ada kelainan struktural yang teridentifikasi. Sering dikaitkan dengan postur buruk berkepanjangan (forward head posture) ketegangan otot yang terus menerus dan stres. Ini adalah nyeri leher yang paling umum pada pekerja kantoran dan pengguna gadget yang terus menerus.
- Gejala: Nyeri tumpul atau berat di leher dan bahu, kekakuan yang memburuk di pagi hari atau setelah duduk lama, sakit kepala tegang yang terasa mulai dari belakang kepala , tidak ada gangguan saraf .
- Faktor Yang Mempengaruhi : Forward head posture (setiap 2,5 cm kepala maju ke depan dari posisi ideal menambah sekitar 5 kg beban efektif pada tulang belakang leher), layar yang terlalu rendah atau tinggi, tidur dengan bantal yang kurang nyaman untuk leher .
2. Cervicogenic Headache (Nyeri Kepala dari Leher)
Nyeri kepala yang bersumber dari struktur leher (sendi C1–C3, otot suboksipital) yang diteruskan ke kepala. Kondisi ini sering dikira sebagai migrain atau nyeri kepala biasa akibat tegang.
- Gejala: Nyeri kepala satu sisi yang dimulai dari leher atau pangkal tengkorak, memburuk dengan gerakan leher atau posisi tertentu, dapat disertai leher kaku pada sisi yang sama nyeri di bahu atau lengan atas sisi yang sama.
- Cervicogenic headache memberikan respons baik terhadap terapi manual dan latihan leher, berbeda dari migrain yang membutuhkan obat. Diagnosis tepat oleh dokter penting untuk menentukan penanganan yang efektif [2].
3. Radikulopati Servikal (Saraf Leher Terjepit)
Terjadi ketika akar saraf di tulang belakang leher tertekan atau mengalami iritasi, paling sering akibat herniasi diskus (bantalan tulang belakang menonjol dan menekan saraf) atau osteofit (pertumbuhan tulang akibat degenerasi). Insiden tertinggi pada usia 50–54 tahun, namun bisa terjadi lebih muda pada atlet atau orang dengan aktivitas leher yang berlebihan [3].
- Gejala: Nyeri tajam atau terbakar yang menjalar dari leher ke bahu, lengan, hingga ke jari-jari tangan sesuai jalur saraf yang terkena , kesemutan dan mati rasa di tangan, kelemahan otot lengan, nyeri yang memburuk saat menoleh atau mendongak ke sisi yang sakit.
SEGERA KE DOKTER JIKA ADA TANDA RADIKULOPATI: - Kelemahan otot lengan yang bertambah berat - Mati rasa atau kesemutan yang tidak hilang, terutama di tangan - Nyeri menjalar yang sangat mengganggu dan tidak respons terhadap obat anti nyeri - Gejala di kedua lengan terjadi secara bersamaan, kemungkinan mielopati servikal (lebih serius)
4. Mielopati Servikal (Kompresi / Tekanan Sumsum Tulang Belakang)
Kondisi serius akibat penyempitan kanal tulang belakang yang menekan sumsum tulang belakang sendiri (bukan hanya akar saraf). Berbeda dari radikulopati, mielopati memengaruhi kedua sisi tubuh.
- Gejala: Gangguan keseimbangan dan koordinasi, kelemahan di kedua tangan atau kaki, kesulitan melakukan gerakan halus (seperti mengancingkan baju), dan pada kondisi yang berat, penderita bisa mengalami sulit menahan buang air kecil atau buang air besar. Ini memerlukan evaluasi dokter segera.
- CATATAN: Jika ada kecurigaan mielopati, artikel ini tidak relevan sebagai panduan, segera ke dokter spesialis saraf atau bedah saraf.
Faktor Risiko Nyeri Leher
- Postur _forward head _yang berkepanjangan: setiap 1 cm kepala di depan posisi ideal meningkatkan beban pada struktur leher
- Pekerjaan dengan posisi leher yang diam lama: penggunaan komputer, menyetir jarak jauh, pekerjaan presisi
- Riwayat nyeri leher atau cedera sebelumnya, faktor yang paling kuat meningkatkan risiko keluhan muncul kembali.[4]
- Stres psikologis dan kecemasan, bukti kuat bahwa faktor psikososial mempengaruhi intensitas dan durasi nyeri leher
- Kurang aktivitas fisik dan kelemahan otot leher, bahu, dan punggung atas
- Tidur pada posisi yang tidak nyaman bagi tulang belakang leher
- Olahraga overhead yang terus menerus tanpa program penguatan leher dan punggung atas yang memadai
Pendekatan Latihan Berbasis Bukti
Cochrane Review terbaru (2023) mengkonfirmasi bahwa kombinasi latihan aktif dan terapi manual lebih efektif daripada salah satunya saja untuk nyeri leher kronis . Penanganan pasif (istirahat, panas/dingin, TENS-Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) tidak efektif sebagai terapi tunggal jangka panjang.
Fase 1 - Chin Tuck (Cervical Retraction)
Latihan paling dasar untuk nyeri leher dan postur forward head. Mengaktifkan deep cervical flexors dan mereposisi kepala ke atas tulang belakang. Posisi: duduk tegak atau berdiri. Tarik dagu lurus ke belakang (bukan menunduk) seperti membuat 'double chin'. Bayangkan ada tali di puncak kepala yang menarik lurus ke atas. Tahan 5 detik. 10 repetisi, 3x sehari — bisa dilakukan di kursi kantor. REGRESSION (gerakan menjadi lebih sederhana) : Lakukan berbaring telentang dengan lutut ditekuk jika sulit merasakan gerakan yang benar. PROGRESSION (gerakan lebih menantang) : Tambah resistensi dengan tekan tangan ringan ke dahi saat melakukan chin tuck setelah 2 minggu.
Fase 2&3
Coming Soon...
Referensi Pendukung
- GBD 2019 Diseases and Injuries Collaborators. Global burden of 369 diseases and injuries in 204 countries and territories, 1990-2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. Lancet. 2020;396(10258):1204-1222.doi:
10.1016/S0140-6736(20)30925-9Buka sumber - Jull G, Stanton W. Predictors of responsiveness to physiotherapy management of cervicogenic headache. Cephalalgia. 2005;25(2):101-108. — Reaffirmed: Luedtke K, et al. Efficacy of interventions used by physiotherapists for patients with headache and migraine. J Headache Pain. 2012;13(3):197-210doi:
10.1007/s10194-012-0441-5Buka sumber - Eubanks JD. Cervical radiculopathy: nonoperative management of neck pain and radicular symptoms. Am Fam Physician. 2010;81(1):33-40.doi:
PMID:20052961Buka sumber - Artus M, Campbell P, Mallen CD, Dunn KM, van der Windt DA. Generic prognostic factors for musculoskeletal pain in primary care: a systematic review. BMJ Open. 2017;7(1):e012901.doi:
10.1136/bmjopen-2016-012901Buka sumber - Falla D, Jull G, Russell T, Vicenzino B, Hodges P. Effect of neck exercise on sitting posture in patients with chronic neck pain. Phys Ther. 2007;87(4):408-417.doi:
10.2522/ptj.20060009Buka sumber - Nakashima H, Yukawa Y, Suda K, et al. Abnormal findings on magnetic resonance images of the cervical spines in 1211 asymptomatic subjects. Spine. 2015;40(6):392-398doi:
10.1097/BRS.0000000000000775Buka sumber - Blanpied PR, Gross AR, Elliott JM, et al. Neck Pain: Revision 2017. Clinical Practice Guidelines Linked to the International Classification of Functioning, Disability and Health from the Orthopaedic Section of the American Physical Therapy Association. J Orthop Sports Phys Ther. 2017;47(7):A1-A83.doi:
10.2519/jospt.2017.0302Buka sumber







