ResepGerak.ID
Program Pencegahan

Panduan Latihan Pelvic Floor Dysfunction

Panduan Latihan Dasar Panggul untuk Mengatasi Mengompol, Prolaps, dan Nyeri Panggul

Ilustrasi: Panduan Latihan Pelvic Floor Dysfunction

Pelvic Floor Dysfunction

Pelvic floor (dasar panggul) adalah sekelompok otot berbentuk seperti "hammock" atau ayunan di bagian bawah panggul. Otot ini menyangga kandung kemih, rahim (pada wanita), dan usus besar, sekaligus membantu menahan buang air kecil, buang air besar, dan buang angin. Pelvic floor dysfunction terjadi saat otot-otot ini terlalu lemah, terlalu tegang, atau tidak bisa bekerja sama dengan baik. Kondisi ini sangat umum, terutama pada wanita setelah melahirkan dan memasuki menopause, tetapi pria juga bisa mengalaminya (misalnya setelah operasi prostat).

Gejala yang sering muncul:

  • Mengompol saat batuk, bersin, tertawa, melompat, atau mengangkat beban
  • Tiba-tiba sangat ingin buang air kecil dan sulit menahannya
  • Rasa berat atau seperti ada yang "turun" di area vagina (gejala prolaps)
  • Sulit menahan buang angin atau buang air besar
  • Nyeri panggul, nyeri saat berhubungan intim, atau sulit buang air besar tuntas

Siapa yang lebih berisiko?

Wanita yang pernah hamil dan melahirkan, usia lanjut dan menopause, berat badan berlebih, sembelit kronis, batuk kronis, pekerjaan sering mengangkat beban berat, serta atlet olahraga high-impact seperti lompat dan lari.

Cara Merasakan Otot Dasar Panggul

Bayangkan Anda sedang menahan buang angin dan sekaligus menahan pipis. Rasakan area di sekitar anus dan saluran kencing "mengencang dan terangkat ke dalam", itulah otot dasar panggul. Jangan berlatih dengan cara menghentikan pancaran urine saat sedang pipis secara rutin. Cara ini hanya untuk mengenali otot sekali saja

Mengapa Olahraga Penting?

Latihan otot dasar panggul merupakan pengobatan lini pertama untuk mengompol pada wanita dengan bukti ilmiah tingkat tinggi. Sama seperti otot lain, otot dasar panggul bisa dilatih agar lebih kuat, lebih cepat bereaksi, dan lebih tahan lama. Latihan otot dasar panggul terbukti mengurangi mengompol, meringankan prolaps (turun peranakan) dan membantu pemulihan setelah melahirkan.

Selain latihan khusus dasar panggul, olahraga umum membantu menurunkan berat badan, mencegah sembelit, dan mengurangi tekanan di perut. Ketiganya ikut meringankan beban dasar panggul. Penurunan berat badan sendiri terbukti meningkatkan peluang sembuh atau membaik dari mengompol. Latihan yang perlu dilakukan diantaranya:

1. Latihan Aerobik

Pilih aerobik berdampak rendah (low-impact) dulu. Olahraga dengan banyak lompatan meningkatkan tekanan ke dasar panggul: pada praktisi CrossFit wanita, sekitar 44,5% mengalami mengompol dan gerakan lompat paling sering memicu kebocoran.

2. Latihan Kekuatan

Glute Bridge (3x10-12 rep)
Mini Squat (3x10-12 rep)
Clamshell (3x10-12 rep)
Bird Dog (3x6-8 rep masing masing sisi)
Dead Bug (3x6-8 rep masing masing sisi)

3. Latihan Fleksibilitas

Otot dasar panggul yang sehat harus bisa mengencangkan dan meregangkan. Latihan ini sangat penting bagi yang mengalami nyeri panggul, nyeri saat berhubungan atau sulit buang air besar tuntas yang disebabkan oleh otot yang terlalu tegang.

Peregangan Piriformis
Cat-cow

Referensi Pendukung

  1. Hay-Smith EJC, et al. Comparisons of approaches to pelvic floor muscle training for urinary incontinence in women. Cochrane Database Syst Rev. 2024;12:CD009508.doi: 10.1002/14651858.CD009508.pub2Buka sumber
  2. 2. Fernandes ACN, et al. Pelvic floor muscle training with feedback or biofeedback for urinary incontinence in women. Cochrane Database Syst Rev. 2025;3:CD009252.doi: 10.1002/14651858.CD009252.pub2Buka sumber
  3. Todhunter-Brown A, et al. Conservative interventions for treating urinary incontinence in women: an Overview of Cochrane systematic reviews. Cochrane Database Syst Rev. 2022;9:CD012337.doi: 10.1002/14651858.CD012337.pub2Buka sumber
  4. Funada S, et al. Bladder training for treating overactive bladder in adults. Cochrane Database Syst Rev. 2023;10:CD013571doi: 10.1002/14651858.CD013571.pub2Buka sumber
  5. Wang T, et al. The effect of pelvic floor muscle training for women with pelvic organ prolapse: a meta-analysis. Int Urogynecol J. 2022;33(7):1789–1801.doi: 10.1007/s00192-022-05139-zBuka sumber
  6. Beamish NF, et al. Impact of postpartum exercise on pelvic floor disorders and diastasis recti abdominis: a systematic review and meta-analysis. Br J Sports Med. 2025;59(8):562–575.doi: 10.1136/bjsports-2024-108619Buka sumber
  7. Rodríguez-Longobardo C, et al. Pelvic floor muscle training interventions in female athletes: a systematic review and meta-analysis. Sports Health. 2024;16(5):766–775.doi: 10.1177/19417381231195305Buka sumber
  8. Dominguez-Antuña E, et al. Prevalence of urinary incontinence in female CrossFit athletes: a systematic review with meta-analysis. Int Urogynecol J. 2023;34(3):621–634.doi: 10.1007/s00192-022-05244-zBuka sumber
  9. Van Reijn-Baggen DA, et al. Pelvic floor physical therapy for pelvic floor hypertonicity: a systematic review of treatment efficacy. Sex Med Rev. 2022;10(2):209–230.doi: 10.1016/j.sxmr.2021.03.002Buka sumber
  10. Johnson EE, et al. Conservative interventions for managing urinary incontinence after prostate surgery. Cochrane Database Syst Rev. 2023;4:CD014799.doi: 10.1002/14651858.CD014799.pub2Buka sumber
Editorial

Artikel Terkait

Artikel lain di Program Pencegahan, Pinggul & Pelvis.

Lihat semua di section ini