ResepGerak.ID
Cedera Umum

Groin Strain (Cedera Otot Selangkangan) : Panduan Berbasis Bukti

Selangkangan terasa tertarik atau nyeri mendadak saat berlari atau menendang? Kenali groin strain dan program latihan berbasis bukti untuk pemulihan dan pencegahan kekambuhan.

Ilustrasi: Groin Strain (Cedera Otot Selangkangan) : Panduan Berbasis Bukti

Detik itu pemain sepak bola melakukan sprint dan tiba-tiba merasakan 'pop' atau tarikan tajam di selangkangan, dia langsung berhenti, menahan paha dalamnya. Atau atlet hoki yang mengeluh nyeri tumpul di selangkangan yang sudah berlangsung berminggu-minggu, semakin parah saat bermain tapi 'masih bisa ditahan'. Keduanya adalah groin strain, cedera yang menempati urutan pertama sebagai cedera yang paling sering kambuh dalam sepak bola dan hoki es. Penanganan yang tepat sejak awal adalah satu-satunya cara memutus siklus cedera-kambuh-cedera yang menguras karir atlet.

Anatomi Selangkangan: Struktur yang Rentan Cedera

Regio selangkangan (groin) adalah area transisi antara panggul dan paha, berisi beberapa kelompok otot yang sering terlibat dalam cedera olahraga. Pemahaman anatomi membantu membedakan jenis cedera: Otot Adduktor (tersering cedera): Adductor longus, brevis, magnus, dan gracilis, kelompok otot di paha dalam yang bertugas menarik kaki ke arah garis tengah. Adductor longus adalah yang paling sering mengalami strain dalam olahraga kontak [1]. _Hip Flexors_: Iliopsoas dan rectus femoris, otot depan panggul yang mengangkat lutut ke atas. Strain iliopsoas sering terjadi pada pelari dan pemain hoki karena gerakan fleksi panggul (menekuk panggul) berulang dengan beban. Otot Pubis (Athletic Pubalgia): Nyeri di simfisis pubis yang melibatkan otot-otot yang berada di sekitarpubis, sering pada atlet yang banyak melakukan gerakan rotasi batang tubuh dan tendangan. Kondisi ini sering disebut 'sports hernia' meski secara anatomi bukan hernia sebenarnya [2].

Spektrum Groin Strain: Klasifikasi dan Gejala

Klasifikasi DOHA Agreement (2015) membagi nyeri selangkangan berdasarkan lokasi anatomis. Satu atlet bisa mengalami lebih dari satu tipe secara bersamaan:

1. Adductor-Related Groin Pain (Tersering)

Nyeri yang berpusat di otot adduktor. Ini adalah kategori tersering dalam olahraga sepak bola, hingga 62% dari semua kasus nyeri selangkangan pada pemain sepak bola profesional [3].

  • Gejala akut (Grade I–II): Tarikan tiba-tiba di paha dalam saat berlari atau menendang, nyeri saat kontraksi adduktor melawan beban, nyeri tekan di sepanjang otot atau di tempat menempelnya otot pada pubis, tidak ada kelainan yang teraba.
  • Gejala berat (Grade III): 'Pop' yang terdengar/terasa, nyeri hebat langsung, ketidakmampuan menumpu berat, hematom (memar kebiruan) yang terlihat di paha dalam, defek/cekungan teraba pada otot. Ini memerlukan evaluasi segera.

GRADING STRAIN OTOT — PANDUAN LAPANGAN: - Grade I: tarikan ringan, bisa melanjutkan aktivitas dengan nyeri ringan, tidak ada kehilangan kekuatan signifikan - Grade II: robekan parsial, tidak bisa lari penuh, nyeri saat kontraksi aktif, mungkin ada hematom ringan - Grade III: robekan total atau avulsi, tidak bisa berjalan normal, nyeri hebat, defek teraba — HARUS ke dokter segera

2. Iliopsoas-Related Groin Pain

Nyeri di anterior hip (panggul bagian depan) dan selangkangan atas yang berasal dari otot iliopsoas atau bursa iliopsoas. Lebih umum pada pelari, pemain hoki, dan atlet yang banyak melakukan fleksi panggul berulang. Gejala: Nyeri saat mengangkat lutut ke atas (hip flexion) terutama dengan adanya beban, nyeri dengan palpasi di bawah ligamentum inguinal, kadang terasa 'snap' di anterior hip saat tertentu (snapping hip syndrome)

3. Athletic Pubalgia (Pubalgia Olahraga)

Kondisi nyeri kronik di simfisis pubis dan jaringan sekitarnya akibat beban berulang pada struktur yang yang berada di pubis. Berbeda dari groin strain akut. Ini adalah kondisi akibat penggunaan atau aktivitas berulang yang muncul secara perlahan seiring waktu.[4]. Gejala: Nyeri tumpul di simfisis pubis yang memburuk setelah latihan, kaku di pagi hari, nyeri saat batuk atau bersin (meningkatkan tekanan di dalam perut), nyeri pada kedua sisi (berbeda dari adductor strain yang biasanya hanya di salah satu sisi). CATATAN: Athletic pubalgia sering dikombinasikan dengan FAI atau adductor strain, diagnosis yang akurat membutuhkan evaluasi klinis lengkap dan MRI, bukan hanya berdasarkan lokasi nyeri.

Faktor Risiko Groin Strain

  • Kelemahan otot adduktor (otot paha bagian dalam yang membantu merapatkan kaki) dibandingkan abduktor (otot yang membantu menggerakkan kaki ke arah samping ), rasio kekuatan adduktor:abduktor < 0.80 meningkatkan risiko cedera groin secara signifikan [5]
  • Riwayat groin strain sebelumnya, faktor risiko terkuat; 3–7x lebih tinggi mengalami cedera ulang
  • Keterbatasan hip abduction, rentang gerak otot abduktor < 25° dikaitkan dengan peningkatan risiko
  • Overtraining: peningkatan mendadak volume latihan tanpa adaptasi otot yang memadai
  • Ketidakseimbangan otot trunk (core) yang menyebabkan beban berlebih pada insersi pubis
  • Tidak ada program pra-musim yang mencakup latihan penguatan adduktor eksentrik (aktivitas otot di mana kelompok otot adduktor panggul (paha bagian dalam) )
  • Faktor lapangan: permukaan keras, cleats yang tidak sesuai (sepatu olahraga dengan tonjolan di bagian bawah ), gerakan pivot (gerakan berputar) mendadak

Pendekatan Latihan Berbasis Bukti

Copenhagen Adductor Exercise Program (2015), program penguatan otot adduktor yang dikembangkan oleh Holmich dan tim adalah program berbasis bukti terkuat untuk rehabilitasi dan pencegahan groin strain pada atlet sepak bola dan hoki. Penelitian menunjukkan program ini mengurangi risiko cedera adduktor hingga 41% ketika diterapkan sebagai program pra-musim [6].

Fase 1 — Manajemen Akut (Hari 1–7, Grade I–II)

  • Tujuan: mengendalikan nyeri dan lindungi otot yang cedera.
  • RICE protocol: Rest, Ice (15–20 menit, 3–4x sehari), Compression, Elevation di 48–72 jam pertama
  • Grade I: modifikasi aktivitas (tidak lari, tidak menendang) tapi tetap bergerak, jalan kaki ringan
  • Grade II: istirahat lebih ketat, kruk mungkin diperlukan jika nyeri saat menumpu berat
  • Obat anti nyeri jangka pendek sesuai anjuran dokter
  • Hindari peregangan agresif adduktor di fase akut, justru meningkatkan kerusakan
  • REGRESSION: Bed rest dan kompres es saja jika nyeri hebat saat berjalan.
  • PROGRESSION: Mulai latihan Fase 2 ketika nyeri saat berjalan < 2/10 dan kontraksi isometrik adduktor tidak menimbulkan nyeri > 3/10.__

Referensi Pendukung

  1. Weir A, Brukner P, Delahunt E, et al. Doha agreement meeting on terminology and definitions in groin pain in athletes. Br J Sports Med. 2015;49(12):768-774.doi: 10.1136/bjsports-2015-094869Buka sumber
  2. Sheen AJ, Stephenson BM, Lloyd DM, et al. 'Treatment of the sportsman's groin': British Hernia Society's 2014 position statement based on the Manchester Consensus Conference. Br J Sports Med. 2014;48(14):1079-1087.doi: 10.1136/bjsports-2013-092872Buka sumber
  3. Ekstrand J, et al. Hamstring muscle injuries in professional football: the correlation of MRI findings with return to play. Br J Sports Med. 2012;46(2):112-117.doi: 10.1136/bjsports-2011-090155Buka sumber
  4. Palisch A, Zoga AC, Meyers WC. Imaging of athletic pubalgia and core muscle injuries: clinical and therapeutic correlations. Clin Sports Med. 2013;32(3):427-447.doi: 10.1016/j.csm.2013.04.001Buka sumber
  5. Engebretsen AH, Myklebust G, Holme I, Engebretsen L, Bahr R. Intrinsic risk factors for groin injuries among male soccer players: a prospective cohort study. Am J Sports Med. 2010;38(10):2051-2057doi: 10.1177/0363546510375544Buka sumber
  6. Harøy J, Clarsen B, Wiger EG, et al. The Adductor Strengthening Programme prevents groin problems among male football players: a cluster-randomised controlled trial. Br J Sports Med. 2019;53(3):150-157doi: 10.1136/bjsports-2017-098937Buka sumber
  7. Serner A, Tol JL, Jomaah N, et al. Diagnosis of acute groin injuries: a prospective study of 110 athletes. Am J Sports Med. 2015;43(8):1857-1864.doi: 10.1177/0363546515585123Buka sumber
  8. Tyler TF, Silvers HJ, Gerhardt MB, Nicholas SJ. Groin injuries in sports medicine. Sports Health. 2010;2(3):231-236.doi: 10.1177/1941738110366820Buka sumber
Editorial

Artikel Terkait

Artikel lain di Cedera Umum, Pinggul & Pelvis.

Lihat semua di section ini