Anda baru saja merasakan 'pop' atau sensasi robek di area dada saat mengangkat beban atau bertanding, dan sekarang bahu terasa lemah serta nyeri menjalar ke lengan. Pectoralis strain memang bisa sangat mengkhawatirkan, tapi kabar baiknya: sebagian besar kasus ringan hingga sedang bisa pulih penuh dengan rehabilitasi yang tepat tanpa operasi. Artikel ini menjelaskan apa yang perlu anda ketahui, berdasarkan panduan klinis terkini dari American College of Sports Medicine (ACSM) dan Journal of Orthopaedic & Sports Physical Therapy (JOSPT).
Apa itu Pectoralis Strain?
Otot pectoralis major adalah otot besar berbentuk kipas yang menutupi bagian depan dada. Otot ini berfungsi menggerakkan lengan ke depan, ke dalam, dan memutar ke arah dalam. Gerakan yang kita lakukan saat mendorong, memeluk, atau memukul. Di bawahnya terdapat otot pectoralis minor yang berperan dalam menggerakkan tulang belikat (skapula). Pectoralis strain terjadi ketika serat otot atau tendon pectoralis major mengalami peregangan berlebih hingga robek sebagian. Cedera ini diklasifikasikan dalam tiga tingkatan:
- Grade I (Ringan): Beberapa serat otot robek --> ada nyeri dan kaku, tapi kekuatan otot relatif terjaga
- Grade II (Sedang): Robekan lebih banyak --> ada nyeri cukup berat, bengkak, dan penurunan kekuatan yang jelas
- Grade III (Berat): Robekan hampir total atau total (avulsion) --> otot terlepas dari titik perlekatan, nyeri hebat, dan kelemahan signifikan; sering membutuhkan operasi
Pectoralis minor strain lebih jarang terjadi, biasanya ditandai dengan nyeri di bagian dalam bahu depan dan keterbatasan gerak skapula.
Mekanisme Cedera
Pectoralis strain paling sering terjadi saat otot dalam kondisi tegang (kontraksi eksentrik) menerima beban mendadak melebihi kapasitasnya. Mekanisme tersering meliputi:
- Bench press (angkat beban): Fase turunnya bar menuju dada adalah momen paling riskan. Saat otot memanjang sambil menahan beban berat
- Olahraga kontak: Tackle rugby, gulat, dan judo sering menyebabkan cedera akibat lengan yang ditarik paksa ke belakang
- Olahraga raket: Gerakan smash atau servis yang kuat pada tenis dan bulu tangkis
- Jatuh dengan tangan terentang: Lengan dipaksa bergerak ke belakang tiba-tiba saat menahan berat badan
Faktor yang meningkatkan risiko termasuk pemanasan yang tidak cukup, beban yang terlalu berat, kelelahan otot, dan riwayat cedera pectoralis sebelumnya [1,2].
Gejala Umum
Gejala bervariasi tergantung keparahan cedera. Beberapa tanda yang paling umum dilaporkan:
- Nyeri tajam di area otot dada bagian depan, kadang menjalar ke lengan atas bagian dalam
- Sensasi 'pop' atau 'snap' saat cedera terjadi pada kasus Grade II dan III
- Bengkak dan memar (biru keunguan) yang bisa muncul beberapa jam setelah cedera
- Kelemahan terasa jelas saat mendorong, melakukan push-up, atau memutar lengan ke dalam
- Deformitas otot yang terlihat, tonjolan atau lekukan tidak normal di area dada atau bahu pada kasus Grade III
- Kekakuan bahu yang membatasi gerak lengan ke atas dan ke samping
- Perlu diperhatikan: nyeri dada yang disertai sesak napas, rasa tertekan, atau menjalar ke rahang dan lengan kiri BUKAN tanda cedera otot — segera ke UGD karena bisa berkaitan dengan jantung.
Faktor Risiko
Beberapa faktor meningkatkan risiko mengalami pectoralis strain:
- Laki-laki usia 20–40 tahun --> kelompok yang paling sering mengalami cedera ini
- Penggemar bench press dan angkat beban dengan beban berat tanpa teknik yang benar
- Atlet olahraga kontak: rugby, gulat, football Amerika, martial arts
- Pemanasan tidak memadai sebelum latihan intensitas tinggi
- Riwayat cedera pectoralis sebelumnya --> jaringan parut melemahkan kekuatan otot
- Penggunaan anabolik steroid, berkaitan dengan peningkatan risiko cedera tendon
Pendekatan Latihan Berbasis Bukti
Panduan ACSM 2021, JOSPT 2022, dan bukti terbaru merekomendasikan pendekatan rehabilitasi bertahap sebagai tatalaksana utama untuk Grade I dan II. Grade III membutuhkan evaluasi ortopedi terlebih dahulu [1,2,3].
Fase 1 : Pengendalian Nyeri dan Perlindungan (Minggu 1–2)
Tujuan fase ini adalah mengurangi peradangan, melindungi jaringan yang cedera, dan mempertahankan rentang gerak yang ada.
- Es (kompres dingin): 15–20 menit, 3–4 kali sehari selama 48–72 jam pertama untuk mengurangi bengkak
- Pendulum exercise (ayunan lengan pasif): bungkukkan tubuh, biarkan lengan menggantung bebas, lakukan gerakan kecil dengan gravitasi, 2x20 gerakan, 2x sehari
- Passive range of motion: bantu lengan bergerak dengan tangan sehat dalam batas nyeri
- Posisi tidur: hindari tidur miring ke sisi yang cedera; gunakan bantal untuk menopang lengan.
- REGRESSION (lebih mudah): Hanya istirahat total dan es selama 48 jam pertama jika nyeri sangat berat. Jangan memaksakan gerak apapun.
- PROGRESSION: Tambah amplitude gerakan pendulum secara bertahap saat nyeri berkurang.
Fase 2 & 3
Coming Soon...
Pencegahan
Pectoralis strain bisa dicegah dengan persiapan yang tepat sebelum dan selama latihan:
- Selalu lakukan pemanasan 10–15 menit sebelum latihan beban atau olahraga kontak, khususnya peregangan dinamis untuk bahu dan dada
- Perhatikan teknik_ bench press_: jangan turunkan bar terlalu rendah ke dada, jaga siku sedikit masuk ke dalam (bukan melebar 90 derajat)
- Tingkatkan beban secara bertahap, jangan loncat beban terlalu cepat (gunakan aturan 10% per minggu)
- Latih keseimbangan otot: perkuat otot punggung (rotator cuff, rhomboid) sebanding dengan otot dada
- Pastikan istirahat cukup antara sesi latihan, otot yang kelelahan jauh lebih rentan cedera
- Hindari latihan saat otot sedang dalam kondisi tegang atau setelah kerja berat tanpa jeda.
Referensi Pendukung
- American College of Sports Medicine (ACSM). ACSM's Guidelines for Exercise Testing and Prescription. 11th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2021doi:
https://www.wolterskluwer.com/en/know/acsm/guidelines-for-exercise-testing-and-prescriptionBuka sumber - Beneciuk JM, Bishop MD, George SZ. Clinical prediction rules for physical therapy interventions: a systematic review. Phys Ther. 2009 Feb;89(2):114-24.doi:
10.2522/ptj.20080239Buka sumber - Long KM, Ward T, DiVella M, et al. Injuries of the Pectoralis Major: Diagnosis and Management. Orthop Rev (Pavia). 2022 Nov 30;14(4):36984.doi:
10.52965/001c.36984Buka sumber - Bak K, Cameron EA, Henderson IJ. Rupture of the pectoralis major: a meta-analysis of 112 cases. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 2000;8(2):113-9.doi:
10.1007/s001670050197Buka sumber - Butt U, Mehta S, Funk L, Monga P. Pectoralis major ruptures: a review of current management. J Shoulder Elbow Surg. 2015 Apr;24(4):655-62.doi:
10.1016/j.jse.2014.10.024.Buka sumber - Bodendorfer BM, McCormick BP, Wang DX, et al. Treatment of Pectoralis Major Tendon Tears: A Systematic Review and Meta-analysis of Operative and Nonoperative Treatment. Orthop J Sports Med. 2020 Feb 6;8(2):2325967119900813doi:
10.1177/2325967119900813Buka sumber - Yu J, Zhang C, Horner N, et al. Outcomes and Return to Sport After Pectoralis Major Tendon Repair: A Systematic Review. Sports Health. 2018 Dec 13;11(2):134–141doi:
10.1177/1941738118818060Buka sumber

